Sunday, 10 August 2014

10 Agustus 2014 - Dasar Hidup?

Filipi 2:5, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Apa yang menjadi dasar hidup kita untuk berbagi kasihNya kepada sesama? Biarlah pikiran & perasaan yang ada di dalam Kristus Yesus itu yang akan menjadi dasar hidup kita dalam berfellowship / berkomunitas, sehingga kita dijauhkan dari perasaan iri hati, perpecahan, dll, sehingga dapat maju bersama untuk memuliakan Tuhan & melayani dengan setia! Build A Better Future Together!


Respon 1 :


Hurt People Hurt People. Orang yang TERSAKITI akan MENYAKITI orang lain pula. Dalam buku berjudul Hurt People Hurt People, dikatakan bahwa orang yang hatinya terluka cenderung dia juga akan melukai orang lain. Pernahkah Anda menjumpai seorang yang kata-katanya pedas, sering menyakiti orang lain atau tidak bisa memperlakukan orang lain dengan baik? Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatang-kan kesembuhan (Ams12:18). Jika kita menyelidiki lebih dalam, biasanya orang itu hatinya pernah mengalami 'luka' yang cukup dalam. Coba periksalah dalam hidup kita, jika ada luka yang belum sembuh dalam hati kita, maka kita pun akan gampang sekali melukai orang lain, baik melalui perkataan, atau sikap kita. Itu sebabnya Amsal menulis betapa pentingnya menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan  (Ams.4:23). Akibat  dari  hati
yang terluka, maka seseorang cenderung akan suka melukai orang lain, terutama terhadap orang-orang yang tidak ia sukai. Lawan dari 'hurt-people' adalah 'healed-people', orang yang telah dipulihkan hatinya juga akan menularkan pemulihan bagi orang yang berada disekitarnya. Perhatikanlah baik-baik, apabila suatu saat, kita tiba-tiba saja berlaku tidak baik, mengeluarkan kata-kata yang menyakit-kan, mengkritik orang lain, sehinggga melukai hatinya, maka kita perlu segera memeriksa keadaan hati kita, sebab itu menunjukkan bahwa ada luka-luka dalam diri kita yang perlu segera dibereskan / disembuhkan. Selama itu belum mengalami pemulihan, maka kita akan selalu melukai orang lain lagi. Sebaliknya, jika hati kita 'sehat' maka kita akan menularkan hal-hal sehat pula kepada orang yang ada disekitar kita. (Tit.1:15) Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis & bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun
suara hati mereka najis. Mari akui segala kelemahan kita dihadapan Tuhan, agar IA menyembuhkn hati kita & membalut luka-luka kita. Maz 147:3, “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati & membalut luka-luka mereka.” Hanya Tuhanlah yang mampu menyembuhkan & memulihkan hati kita. Ams 15:15, “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.”
Respon 2 :

Minggu, 10 Agustus 2014. Bacaan: Yohanes 9:1-7. Setahun: Yesaya 47-51. Nats: Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3). MENANGGAPI MUSIBAH. Menurut Anda, kenapa seseorang bisa sakit atau cacat fisik? Orang awam mungkin menjawab: kurang olah raga, salah pola makan, kecelakaan. Namun, ada pula orang  sok  rohani   yang  menghubungkannya
dengan dosa dan kutukan. Jacqlien Celosse, penyanyi rohani yang terkenal energik, mengalaminya ketika terkena penyakit kikuchi fujinomoto selama empat tahun (2008-2012). Benjolan yang muncul di sekitar leher, serangan demam, sakit tenggorokan, dan gangguan lain sungguh membuatnya tersiksa. Nyatanya, tidak semua orang bersimpati padanya, sebagian malah melontarkan berbagai pendapat 'miring': Jacqlien terkena kutuk lah, Jacqlien pasti sudah berbuat dosa lah, dan sebagainya. Kini Jacqlien telah pulih dan aktif menjadi penginjil mendampingi suaminya. Bagaimana jika kita yang mengalami peristiwa menyakitkan hati itu? Kita sering bertindak sebagai pengamat dan tidak memberikan tanggapan yang sepatutnya. Sama seperti murid Yesus ketika memandang orang yang buta sejak lahirnya itu. Mereka memandang sesuai dengan nalar mereka: pasti karena orang itu atau orangtuanya berbuat dosa.  Tetapi,  Yesus  berpikir  lain. Selalu ada kemungkinan lain setiap kali ada musibah atau kemalangan terjadi. Apakah itu? Allah ingin menyatakan kemahakuasaan-Nya. Dari kasus Jacqlien, kita belajar untuk berhati-hati dalam menanggapi saudara kita yang tengah ditimpa musibah. Daripada berspekulasi, mengapa kita tidak membesarkan hati dan mendukungnya semampu kita? Mari mengembangkan daya empati dan simpati kita.
 --Reza M. Adipratama. ORANG SAKIT DAN CACAT TIDAK MEMERLUKAN KOMENTAR KITA; MEREKA MENANTI-KAN DUKUNGAN KITA.

JESUS BLESS

 

No comments:

Post a Comment