Filipi 2:1-4, “Jadi
karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh,
ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan
ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih
utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya
memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
Tuhan melihat sikap HATI
kita pada saat kita dipilih untuk melayaniNya, bukan karena kita mampu tetapi
kesediaan HATI kita / MAU itulah yang Tuhan lihat... Sudahkah kita MAU /
membuka
diri
untuk melayaniNya? Lewat orang-orang yang ada di sekitar kita?Amin. Semangat
MAU MelayaniNya ya... :) Apapun bentuk pelayananNya! :)
Respon
1 :
Yesus
menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak
bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara
itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercam-paklah
ke dalam laut! hal itu akan terjadi. (Matius 21:21) Faith makes things happen.
Respon
2 :
Maz
18:31, “Adapun ALLAH, jalan-NYA sempurna; janji TUHAN adalah murni; DIA menjadi
perisai bagi semua orang yang berlindung pada-NYA!” Jangan takut, DIA tolong!
Samuel Sianto (SS)-YESTOYA Malang.
Respon
3 :
Renungan Pagi. Kamis, 21 Agustus 2014. Bahan: Yeremia
36-39. Nats: Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana (Amsal 22:8).
BAGAI BUMERANG. Bacaan: Esther 7. Seorang bapak membawa anaknya ke sebuah
lembah. “Nak, coba kamu teriakkan sebuah kata,” ujarnya. “Untuk apa, Pak?”
tanya sang anak. “Coba saja,” kata bapak itu lagi. Sang anak menurut. Ia
beranjak ke ujung lembah. “Hai!” teriaknya. Sejenak sepi. Tetapi tidak lama
kemudian terdengar suara gema dari arah lembah, “Hai... hai... hai...” Begitu
pula dengan setiap kata yang diteriakkannya setelah itu. Kembali dengan kata
yang sama. Bapak itu pun membukakan hikmah yang hendak ia ajarkan. “Nak,
seperti itulah hidup kita. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai,”
katanya. Bacaan hari ini mencatat kejadian yang membuktikan tentang hukum tabur
tuai tersebut. Haman-seorang pejabat tinggi
negara, sangat membenci Mordekhai-seorang pria Yahudi (Ester 3:5).
Ia pun mendirikan tiang untuk menggantung Mordekhai.
Lalu menyarankan kepada raja supaya mengadakan upacara penghormatan bagi orang
yang telah berjasa kepada raja (ayat 7-9). Sangka Haman, dirinyalah yang akan
dianugerahi kehormatan itu.Namun yang terjadi justru sebaliknya. Raja memberikan
kehormatan kepada Mordekhai (ayat 10). Sedang tiang yang Haman dirikan,
akhirnya justru digunakan untuk menggantung dirinya (Ester 7:10). Menabur dan
menuai adalah dua hal yang saling terkait. Tidak saja dalam dunia pertanian,
tetapi juga dalam hidup sehari-hari. Ketika kita menanam benih padi yang baik,
biasanya kita pun akan menuai padi yang baik. Bila kita menabur kebaikan, pada
saatnya kita akan menuai kebaikan. Sebaliknya bila kita menabur keburukan, maka
pada saatnya juga kita akan menuai keburukan. Seperti Haman. Dan semoga bukan seperti kita. HIDUP
BAGAI BUMERANG,
APA yang KITA LEMPARKAN ITU JUGA yang KEMBALI. Tuhan Yesus mem-berkati.
Respon
4 :
Ingatkan
dengan KasihNya saat menegur yang salah (Efesus 4:32) - Rev. John Hartman.
No comments:
Post a Comment