15 April 2013
Evaluasi Diri. “Mengapakah
engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu
tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3), baca ayat 1-5. Sebelum kita memberi
penilaian kepada orang lain, lakukan intropeksi diri kita apakah diri kita
sudah “baik”? Apakah sudah tidak ada kesalahan dalam diri kita? Apakah kita
sudah tidak lagi menyakiti hati orang lain? Mari “evaluasi diri” karena
sesungguhnya kita bukan manusia sempurna, tetapi manusia yang sedang
disempurnakan, amin. Sarapan pagi hari ini mengingatkan kita betapa pentingnya
evaluasi diri dan intropeksi!
Respon 1
Yesss bener Cik, hehehehe..
Membayangkan ada balok di mata kita yakapa ya rasae? Tapi memang sering kita
gak terasa ada “balok” itu karena sudah terbiasa ada di situ alias kita sering
merasa diri lebih baik daripada orang lain. Kita sering gak sadar kalo kita
salah tapi kalo liat orang lain melakukan sedikit saja kesalahan, kita langsung
komen dan menghakimi. Thanks God… Bulan ini kita terus diingatkan bahwa kita
ini tidak lebih baik dari orang lain dan untuk terus berpikir positif supaya
kita tidak gampang menghakimi orang lain. Kita diajar rendah hati dan tidak
menjadi sombong. Ya terus belajar jadi pelaku firman. Supaya firman itu terus
menyempurnakan kita.
Respon 2
Salib: Motivasi Orang Percaya. 1
Korintus 2:1-5, Paulus sangat tajam dalam pesan yang disampaikannya. Salib
bukan hanya menjadi topic utamanya, tetapi juga motivasi hidupnya. Jika kita
dapat memahami segala yang sudah dilakukan Yesus bagi kita di bukit Kalvari,
kita juga dapat memiliki motivasi yang baru untuk hidup bagi Dia. Sebagai
contoh, kita dapat… Hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Karena kekuatan
untuk menjalani kehidupan Kristen berasal dari Kristus, tidak ada tempat untuk
kesombongan. Ketika Yesus mati, sifat “daging” kita juga sudah disalibkan
bersama Dia sehingga kita dapat hidup dalam hidup yang baru. Setiap
keberhasilan yang kita capai untuk hidup benar atau taat hanyalah karena Dia
terus bekerja di dalam kita. Melayani Tuhan dengan setia. Melalui salib, kita
ada “di dalam Kristus”, dan Dia di dalam kita (Galatia 2:20). Kita sekarang
adalah tubuh-Nya di bumi ini, yang diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik,
yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya (Efesus 2:10). Yesus disalibkan bukan
supaya kita dapat duduk di bangku gereja setiap hari Minggu dan mendengarkan
khotbah. Dia punya tugas khusus untuk setiap kita yang perlu kita genapi dalam
kehidupan kita. Membagikan iman. Mengetahui semua yang sudah Yesus lakukan di
salib seharusnya mendorong kita untuk membagikan Injil kepada orang lain. Dunia
ini penuh dengan orang-orang yang terluka yang tidak tahu-menahu tentang
keselamatan. Bagaimana mungkin kita tutup mulut, jika yang dipertaruhkan adalah
tujuan kekal mereka? Betapa sering kita memandang salib hanya sebagai peristiwa
masa lalu yang menjamin tujuan kekal kita, dan tidak menyadari betapa salib dapat
memotivasi pilihan dan kegiatan kita sehari-hari. Berhentilah sejenak untuk
merenungkan semua yang Allah terus kerjakan di dalam diri anda melalui salib.
Jadikanlah salib sebagai motivasi anda unutk hidup sepenuh hati bagi Kristus.
Respon 3
Aku menyangka dalam
kebingunganku: "Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu." Tetapi
sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak
kepada-Mu minta tolong. (Mazmur 31:22) Tuhan peduli hidupmu, jangan bingung
euy! Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata
kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan
janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. (Lukas
12:22)
Respon 4
Ya amin firman Tuhan. Mengapa ada
penderitaan? “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah
orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6). Penderitaan dan manusia
sepertinya tidak dapat dipisahkan, ada saatnya Allah mengijinkan umatNya
menderita untuk membentuk atau mendisiplin mereka (Ibrani 12:5-8). Namun ada
kalanya penderitaan datang dari si iblis untuk mencobai dan menjatuhkan
manusia. Kisah Ayub adalah contoh yang gambling tentang peranan iblis dalam
penderitaan. Amin! Maka dari itu mari kita bersarapan pagi setiap pagi menyenangkan
hati Tuhan dan juga iblis tak dapat mencobai kita sebab kita kuat ada firman
penangkis segala cobaan. Amin! Dan lebih semangat berkarya, JBU.
Respon 5
PASANGAN HIDUP. Yang membuat hati
SENANG bukan karena banyak UANG, tapi Pasangan Hidup yang penuh KASIH SAYANG.
Yang membuat hati NYAMAN bukan karena JABATAN, tapi Pasangan Hidup yang penuh
PENGERTIAN. Yang membuat hati BERSYUKUR bukan karena kehidupan yang MAKMUR,
tapi Pasangan Hidup yang JUJUR. Yang membuat semangat BERKOBAR bukan karena
mobil yang BERJAJAR, tapi Pasangan Hidup yang PENYABAR. Yang membuat hidup
penuh BERKAT bukan karena rumah yang BERTINGKAT, tapi Pasangan Hidup yang TAAT.
Yang membuat hidup BAHAGIA bukan karena HARTA, tapi Pasangan Hidup yang SETIA.
Yang membuat hidup SUKACITA, bukan karena memiliki PERMATA, tapi memiliki
Pasangan Hidup yang PENUH CINTA. Mulailah hidupmu untuk menjadi berkat bagi
orang yang paling dekat dengan kamu, yaitu Pasangan Hidupmu. Keberhasilan yang
sejati adalah ketika kamu tetap setia dan bisa membuat Pasangan Hidupmu
berbahagia saat hidup bersamamu. Maleakhi 2:14-16 (…Maka jagalah dirimu dan
janganlah berkhianat!) (=Baca Amsal 5:15-19 & Efesus 5:22-23).
Respon 6
Mazmur 121:2, Pertolonganku ialah
dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Harus mengandalkan Dia dengan
segenap hati kita dan mencari Dia untuk memperoleh kasih karunia untuk mendapat
pertolongan pada waktunya. Allah, satu-satunya sumber untuk memenuhi kebutuhan
jasmani dan rohani kita. Good bless you.
No comments:
Post a Comment