20 November 2013
Mencukupkan Diri. Matius 6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” 1
Timotius 6:8, “Asal ada makanan dan
pakaian, cukuplah.” Keluaran 20:17, “Jangan
mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-
laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang
dipunyai sesamamu.” Belajarlah untuk memilih
antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN. Belajarlah untuk mencukupkan diri dengan apa
yang ada pada kita. Dengan demikian akan mudah untuk kita mengucapkan kata syukur.
Sudahkah kita mengucap syukur atas berkat-berkatNya dalam hidup kita selama
ini??
Respon 1
Puji Tuhan renungan
firman hari ini: “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus,
di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan
semua orang kudus-Nya.” (1 Tes 3:13). Gbu.
Respon 2
Siapa atau apa yang
sedang kita lebih banggakan didalam setiap kesaksian kita? Keberhasilan dan
kehebatan kita? Kesalehan kita? Orang yang diurapi yang kita kagumi? Sebaliknya
berbanggalah atas segala perbuatan Kristus yang bekerja didalam kita.
Muliakanlah Kristus dan apa yang telah Dia kerjakan didalam kita lebih dari segala
yang kita perbuat bagiNya. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin
kecil.” (Yoh 3:30)
Respon 3
RENUNGAN PAGI. Rabu,
20 November 2013. “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan
dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang,
jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi
hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan
yang beribadah.” (1 Tim 2:9-10). Sering kali ayat ini kita dengar tapi sering
pula kita abaikan. Tuhan menghendaki kita berdandan seperti layaknya orang
beribadah. Berdandan dengan perbuatan baik, berdandan dengan pantas, dengan
sopan dan sederhana. Bukan dengan barang-barang ataupun perhiasan, apalagi
dengan pakaian yang mahal-mahal sehingga sering tanpa sadar malah barang-barang
ini menjadi 'standart' dandanan kita. Kalau kurang berkelas itu bukan aku, kalau
cuma harga segitu nanti rusak image ku. Dan tanpa kita sadari dandanan kita menjadi
sandungan untuk kita beribadah, menjadi sandungan dalam pelayanan untuk kita
menjangkau jiwa-jiwa. Padahal dengan jelas Firman dengan tepat menuntun segi
apa saja yang harus kita perhatikan. Mulai dari segi berdandan, segi mengatur
rambut, segi memakai perhiasan, maupun memilih pakaian. Semua telah dituliskan
secara rinci terlebih dahulu untuk menjadi salah satu panduan dalam menjalani
hidup. Jadi apa yang mau kita persembahkan? Tubuhmu-kah ataukah pakaianmu? Perbuatan
baikmu-kah ataukah perhiasanmu? Jiwa-jiwa ataukah kemegahanmu sendiri? Hanya
hati kita dan Tuhan yang tahu. Tuhan Yesus Memberkati.
Respon 4
Shalom! Ya kita haruss
bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan pada kita. Jangan iri hati pada
yang lain-lain. Tuhan pasti mencukupi kita apa yang kita butuhkan. Amin. Jbu
all. Amin... Terima kasih Cik, firman yang luar biasa, Gbu.
Respon 5
Syalom. Amin... “Akan
tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan
pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam
Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan
hidup yang kekal.” (1 Yohanes 5:20). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas,
TUHAN memberkati Ibu & Keluarga.
Respon 6
Shalom Cik selamat
siang! Foto-fotonya sudah masuk semua Cik. Senang bisa lihat foto orang-orang
yang luar biasa ini. Fotonya sangat menginspirasi kami untuk lebih semangat lagi.
Respon 7
HONESTY WHEN TESTED. Honest Abe (Abe yang Jujur) nyatanya bukan
julukan kosong bagi Abraham Lincoln (presiden Amerika). Sejak kecil ia
konsisten bersikap Jujur. Ibu tirinya berkomentar, “Ia tidak pernah MENDUSTAI
saya seumur hidupnya, tidak pernah BERDALIH atau MENGELAK untuk menghindari
HUKUMAN atau TANGGUNG JAWAB.” Ia bersikap JUJUR dalam perkara kecil sekalipun,
seperti saat ia menjadi penjaga toko di New Salem, Illinois. Suatu petang, saat
mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapatkan bahwa ia telah kelebihan menerima
duit dari seorang pelanggan, sebanyak sekitar 6 sen. Malam itu juga, ia
berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan itu untuk mengembalikan uang tersebut.
“Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang
akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak
setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri
kepadamu?” (Lukas 16:11-12) Salomo menguntai beberapa Amsal tentang BERKAT dari
sebuah KEJUJURAN. BERJALAN dalam KEJUJURAN mendatangkan RASA AMAN. Kejujuran
itu seperti jalan yang sekalipun tidak gampang untuk ditempuh, tapi tidak
menyesatkan. Kejujuran membebaskan & melindungi kita. Kejujuran membebaskan
kita dari daya pikat dosa & sistem dunia yang penuh jebakan, serta
melindungi kita dari ancaman kerusakan & kebinasaan. Di negeri kita
belakangan ini, kejujuran terasa sulit sekali untuk ditemukan, sebaliknya
korupsi merajalela. Keadaan ini sebenarnya merupakan kesempatan bagi kita untuk
bersinar. Di tengah kegelapan, maraknya korupsi, biarlah kita menjalankan
pekerjaan, termasuk pekerjaan yang tampak remeh sekalipun, dengan penuh
tanggung jawab. KETIDAK JUJURAN MENDATANGKAN JERAT, KEJUJURAN MENDATANGKAN
KELEGAAN !!! “Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal
tidak jujur.” (Amsal 15:7)
No comments:
Post a Comment