Thursday, 29 June 2017

29 Juni 2017

YOUR BODY IS WONDERLAND






Your Body is A Wonderland – Day 29 – Heart, Hati yang Baru. Efesus 4:30, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Istilah mendukakan berhubungan dengan HATI. oleh karena itu jangan mendukakan Roh Kudus masuk dalam bagian HATI ❤ yang baru. Bila kita melakukan suatu kejahatan, maka orang lain mungkin marah, tetapi orang tua kita akan merasa sangat sedih. Demikian Pula, ketika kita melakukan dosa, Roh Kudus yang Allah berikan dalam hidup kita akan merasa sangat berduka/grieve: kata yang sangat kuat/lebih dari sekedar “sedih”. Kata berduka digunakan bila ada seseorang yang meninggal. Roh Kudus adalah Seorang Pribadi artinya IA dapat berkomunikasi dan membuat diriNya nyata bagi kita. Kita tidak dapat melihat DIA, tetapi IA hidup didalam kita (Yoh 14:17). IA adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Sama halnya dengan Allah Bapa dan Allah Anak, Roh Kudus adalah Allah sendiri. IA kekal, maha hadir, maha tahu dan maha kuasa. IA berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Berkomunikasi dengan kita, membuka diriNya untuk kita dan menanti kita membuka diri bagiNya. IA adalah sebuah pribadi yang berbicara kepada kita secara pribadi pula. Setiap kita harus tahu kuasa Roh Kudus-lah yang membawa kehidupan dan kekuatan bagi kehidupan kita sehari-hari (Yohanes 7:38-39). Tanpa Roh Kudus kita tidak dapat hidup dalam kuasa Allah/mengetahui kekuatan Allah dalam hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu kita membutuhkan pemberian dari Allah yaitu Roh Kudus. Amin.

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Ayub 14-16
PB: Galatia 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyHoliday
#HappyWithUrFamily

Madam Ossy
Kamis, 29 Juni 2017. Bacaan: 2 Timotius 2:1-7. Setahun: Mazmur 23-30. Nas: Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus (2 Timotius 2:1). Kualitas Menderita. Sebagai orang Kristen kita sering tidak bisa terhindar dari berbagai bentuk penderitaan oleh karena iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Ini bukanlah kesusahan apalagi kemalangan, melainkan kasih karunia yang Tuhan beri. Walau kadang pada kenyataannya, ada saja orang percaya yang merasa keadaan “ikut menderita bersama Kristus” adalah suatu kenyataan yang begitu berat dan ingin dihindari. Lumrah, siapa sih yang mau menderita? Rasul Paulus telah menganggap Timotius sebagai anak rohaninya sendiri. Karena itu ia merasa perlu untuk mengingatkan dan meneguhkan Timotius akan panggilannya sebagai pengikut Kristus dan pelayan di jemaat. Nasehat untuk tetap berusaha menjadi kuat oleh karena kasih karunia yang diterima di dalam Kristus Yesus, meskipun menghadapi berbagai penderitaan. Hal ini diikuti dengan pengajaran adanya kualitas pribadi sebagai orang yang menderita karena nama Kristus. Untuk itu, Paulus mengangkat tiga profesi menjadi contoh, yaitu prajurit, olahragawan dan petani. Nilai yang Paulus angkat dari ketiga profesi itu adalah adanya kemampuan untuk fokus pada tujuan, taat pada peraturan, daya juang yang tinggi, gigih dan pantang menyerah, kesabaran yang tinggi, ketabahan dan kuatnya pengharapan akan hasil akhir yang baik, semangat kerja keras, dan kesetiaan sampai akhir. Penderitaan oleh karena iman adalah hal yang lumrah. Itulah konsekuensi iman. Penderitaan itu harusnya membuat kita bertambah kuat dan teguh, bukan lembek dan cengeng –AAS. MENDERITA KARENA KESALAHAN DAN DOSA HARUS DIHINDARI, MENDERITA KARENA NAMA KRISTUS ADALAH KONSEKUENSI IMAN.

Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Tetapi Aku berkata kepadamu: janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu (Matius 5:39). Melihat situasi politik akhir-akhir ini, kita melihat setelah pilkada DKI, orang-orang yang selalu menggunakan isu SARA sepertinya tidak pernah puas, atau kalau boleh kita simpulkan, orang jahat kok bertambah jahat dan kenapa Tuhan membiarkan situasi ini terjadi? Kalau kita renungkan situasi yang tidak mengenakkan juga pernah dialami Yesus, ketika orang-orang jahat itu menyesah, menyiksa, meludah, mengejek dan menyalibkan Dia, lalu kenapa Yesus tidak melawan? Bukankah Dia tinggal berkehendak saja, maka semua orang jahat itu dalam sekejap akan binasa. Namun, itulah ajaran kristiani, mengampuni dan mengasihi. Dalam konteks, “Buruan tampar gue”, sikap kristiani yang dianjurkan Yesus adalah sikap rendah hati, tidak percaya berlebih-lebihan pada kemampuan diri sendiri, melainkan menggantungkan diri sepenuh-penuhnya pada kuasa Allah dan sebaliknya dari dibakar nafsu ingin membalas, ia rindu mengampuni. Yesus mengajarkan kita untuk tidak melawan orang yang berbuat jahat kepada kita, melainkan memberikan pipi kiri kita juga, namun jangan pernah kita menyangka bahwa Yesus menganjurkan sikap menyerah atau lemah, juga jangan pernah menyangka bahwa kita menyediakan diri kita untuk dijadikan bulan-bulanan. Yesus tidak menaifkan perlunya pembalasan atau hukuman, namun yang Ia tawarkan adalah alternatif yang lebih luhur, lebih mulia, yang lebih Ilahi, yakni bukan membalas, melainkan mengampuni, bukan membalas, melainkan mengasihi. Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu; kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Paulus menekankan bahwa pembalasan adalah haknya Tuhan. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Lukas 5:18 – Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Lewat atap... Solidaritas dan kepedulian keempat tmn orang lumpuh ini telah menggugah dan menarik hati YESUS... Biarlah hidup kami keberadaan kami pun boleh menjadi alat ditanganMU TUHAN. Menjadi berkat untuk sesama. Amin. Thank you LORD. Morning ABBA FATHER...

No comments:

Post a Comment