YOUR BODY IS WONDERLAND
Your Body is A Wonderland – Day 23 – Mind, Pikiran yang Realistis (4). Berpikir realistis adalah berpikir
dengan ukuran yang tepat untuk diri kita. Tidak berfantasi, melamun,
diawang-awang melainkan berpikir sedemikian rupa hingga dapat berfungsi secara
strategis dalam dunia sehari-hari. Tidak berpikir terlalu tinggi/sombong
tentang diri kita, tetapi juga tidak terlalu rendah (rendah diri merasa diri kecil).
Mengevaluasi diri dengan identitas kita dalam Kristus. Bukan membandingkan diri
dengan standard dunia. Roma 12:3, “Berdasarkan kasih karunia yang
dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu:
Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu
pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai
diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Amin. Bagaimana dengan PIKIRAN Kita? Apakah masih REALISTIS??
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#UrBodyIsAWonderland
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Ester 9 dan 10
PB: Markus 14:26-52
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Xavier Quentin Pranata
Ketika orang-orang tercinta meninggalkan kita, kasih yang
mereka bagikan takkan terlupa. Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 23 Juni 2017. KEBERANIAN YANG BERISIKO.
Bacaan: Kisah Para Rasul 9:23-31. Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba
menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena
mereka tidak dapat percaya bahwa ia juga seorang murid (Kisah Para Rasul 9:26).
Seorang laki-laki dengan penampilan cukup sangar nampak mengiringi pelayanan
seorang hamba Tuhan dari gereja lokal tertentu. Jujur saja, melihat
penampilannya, saya sempat ragu apakah orang itu sungguh-sungguh telah
bertobat. Pandangan saya pun mulai berubah ketika sang hamba Tuhan menceritakan
pertobatan laki-laki tersebut. Peristiwa itu membuat saya belajar untuk tidak mudah
menghakimi orang berdasarkan masa lalunya. Perikop yang kita baca hari ini
terjadi pada awal pertobatan Saulus. Ia baru saja tiba di Yerusalem dari
pelariannya di Damsyik. Setibanya di Yerusalem, Saulus ingin bergabung dengan
para murid tetapi mereka tidak begitu saja menerimanya. Mungkin mereka takut,
ragu, khawatir, atau curiga atas pertobatan Saulus berkaitan dengan masa
lalunya. Untunglah di sana ada Barnabas, yang membawa Saulus kepada para rasul,
sehingga akhirnya mereka dapat menerimanya, bahkan memperbolehkan dia mengajar
(ay. 28). Keputusan yang sebenarnya berisiko karena jika kekhawatiran para
murid terbukti, Barnabas tentu akan disalahkan oleh banyak orang. Dalam hidup
ini, seburuk apa pun masa lalu seseorang, masih ada kemungkinan untuk berubah.
Sejarah membuktikan bahwa Allah bisa mengubah karakter orang yang paling buruk
sekalipun dan memakai orang yang sama untuk memuliakan Dia. Jika “orang itu”
ada di sekitar kita apakah kita berani menerimanya, seperti yang pernah
Barnabas lakukan? Jika YA, berdoalah supaya tindakan sederhana yang kita
lakukan dapat mengawali tergenapkannya rencana Allah dalam diri orang tersebut.
ALLAH LEBIH TERTARIK PADA MASA DEPAN SESEORANG DIBANDINGKAN DENGAN MASA
LALUNYA. Selamat pagi. Selamat berlibur. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible
– Bacaan: Ayub 1-2 dan Markus 14:53-72

No comments:
Post a Comment