YOUR BODY IS WONDERLAND
Your body is A Wonderland – Mind –
Kedewasaan dalam Pikiran yang Baru (Efesus 4:17-32). BERUBAH adalah hal yang penting, yang
semua orang inginkan tetapi tidak mudah dilakukan. Bagi Rasul Paulus (dan kita
semua orang percaya) PERUBAHAN adalah sebuah KEHARUSAN. Terutama karena kita
sudah memiliki hidup yang baru didalam Kristus. Dan PERUBAHAN dimulai dari
PIKIRAN kita. Efesus 4:17, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu
di DALAM TUHAN: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal
Allah dengan PIKIRAN yang sia-sia.” Dalam Efesus 4:17-32, Rasul Paulus
menulis bagaimana seseorang yang telah ditebus HARUS hidup sesuai
PRINSIP-PRINSIP tertentu dalam Kerajaan Allah. Rasul Paulus tidak membahas
tentang tingkah laku terlebih dahulu, melainkan tentang PIKIRAN. Rasul Paulus
mengatakan:
1. Jangan hidup seperti orang kebanyakan yang pikirannya
kosong.
2. Tidak punya pikiran
3. Jauh dari realita
4. Tidak bisa berpikir dengan benar
Pikiran dalam bahasa aslinya yang digunakan pada Efesus 4:17
adalah noos yang berasal dari kata nous yang
berarti pengertian, intelektual, insight, pikiran, cara berpikir,
merasakan sesuatu, affection. Pikiran mereka diliputi oleh kegelapan/skotizo
yang artinya gelap, tidak ada terang, menjadi buta, dunia yang jahat, tempat
dosa berdiam, tempat roh jahat. Tujuan Utama pikiran saudara dan saya adalah
SARANA untuk menerima PEWAHYUAN dari Allah. Amin. Saat pikiran kita diisi oleh
KEBENARAN Firman Tuhan dan secara perlahan diubah oleh Roh Kudus ❤, maka
terjadi PERUBAHAN Hidup. PIKIRAN seperti apa yang perlu kita miliki???
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#UrBodyIsAWonderland
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Nehemia 10-11
PB: Markus 12:1-27
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappySunday
#HappyServingGod
WM Stars
ARTI PERJUANGAN HIDUP. Yeremia 33:3; 1 Korintus 10:13; 1
Petrus 1:6-8. Tidak ada yang terlahir di dalam dunia ini dapat memilih di mana
ia hidup, siapa orang tuanya, dan apa yang ia miliki. Siapapun harus menerima
realitas hidup dan tidak ada yang bisa menolak jika ia terlahir miskin ataupun
kaya, di tengah-tengah keluarga yang baik atau tidak, di negara ini ataupun
negara lain, namun setiap orang sejatinya memiliki kemampuan mengubah
kehidupannya kearah yang lebih baik. Faktanya, banyak orang tidak bisa menerima
kenyataan hidup, bahkan berkata, “Tuhan tidak adil.” Benarkah? Apa tanggapan
kita jika mendengar kisah seorang bocah rela memikul tanggung jawab yang
seharusnya diemban oleh orang dewasa? Yi Miao, seorang gadis cilik asal
Tiongkok, yang masih berusia tujuh tahun, namun hidupnya berbeda dari
kebanyakan anak lainnya. Kisah pedih Yi dimulai dari meninggalnya sang ayah
setahun yang lalu karena kecelakaan mobil, lalu seminggu kemudian ibunya
meninggal dunia. Kini ia hidup dengan kakek dan neneknya yang seharusnya
menjaga dan merawatnya, namun sebailiknya, ternyata ia yang merawat keduanya
yang mulai jompo dengan penuh cinta, asa, dan tanggung jawab. Sebab, sang nenek
mengalami gangguan mental dan sulit menggunakan tangan kanannya dengan normal.
Sementara sang kakek menderita penyakit kulit yang langkah yang membuat
kulitnya tak bisa tahan kena air terlalu lama. Setiap hari ia melakukan
pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, membersihkan rumah, menyapu halaman
rumah, hingga membantu memasak. Ia juga selalu menyuapi sang nenek, di
sela-sela kegiatan belajar dan sekolah. Yi dengan tangan mungilnya terus
berusaha untuk merawat kedua orang yang dicintainya sebisa mungkin. Hebatnya, meski
Yi harus merawat kakek dan neneknya, sebagaimana dikutip dari Shanghaiist.com,
ia masih bisa membagi waktu untuk belajar. Buktinya ia berprestasi di sekolah.
Beratnya beban dan tanggung jawab yang dipikul, tidak membuatnya berkeluh
kesah, malah baginya hal itu bukanlah suatu beban, ia tetap ceria, dan ingin
terus merawat kedua orang yang ia sayangi itu. Jika Yi dapat menghadapi
beratnya beban hidup ini, bagaimana dengan kita? Pantaskah kita berkata Tuhan
itu tidak adil? Ketahuilah walaupun setiap orang memiliki pergulatan hidup
masing-masing yang harus dihadapinya, namun Ia tak pernah memberikan persoalan
melebihi kekuatannya. Bahkan, Tuhan selalu memberikan pertolongan yang nyata
apabila kita berseru kepadaNya. Hadapilah persoalan hidup dengan sukacita,
semangat, dan teruslah melakukan yang terbaik serta mengandalkan Tuhan.
Persoalan hidup adalah proses atau pembentukan agar kita menjadi manusia yang
berkarakter, berintergritas, dan berkualitas di hadapan Tuhan. Tetapi
sebaliknya mengeluh hanya akan membuat iman kita lemah dan menjadi penghalang
bagi kita untuk menuju kepada rencana Tuhan yang mulia. Tinggallah di dalam
Dia! DOA: Bapa, beriku kemapuan untuk menghadapi segala persoalan tanpa
berkeluh kesah, melainkan terus percaya dan bersandar kepadaMu. Dalam nama
Tuhan Yesus. Amin. PERSOALAN HIDUP ADALAH SENJATA IBLIS untuk MENGHANCURKAN,
NAMUN ALAT DI TANGAN TUHAN untuk MENGASA IMAN KITA. Yeremia 33:3, “Berserulah
kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu
hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak
kauketahui.” 1 Korintus 10:13, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah
pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah
setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui
kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar,
sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Petrus 1:6-8, 1:6 Bergembiralah akan hal
itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai
pencobaan. 1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu
--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji
kemurniannya dengan api --sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan
dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 1:8 Sekalipun kamu
belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia,
sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang
mulia dan yang tidak terkatakan.
Madam Ossy
Minggu, 18 Juni 2017. Bacaan: 2 Tawarikh 22:10-12; 24:1-2.
Setahun: Ayub 13-16. Nas: ...Yosabat, ...isteri imam Yoyada ...menyembunyikan
dia terhadap Atalya sehingga ia tidak dibunuh Atalya. Maka tinggallah Yoas enam
tahun lamanya bersama-sama mereka... (2 Tawarikh 22:11-12). Yosabat dan Yoyada.
Masa kecil Yoas diliputi mendung gelap. Yehuda dipenuhi penyembahan berhala dan
konflik bersimbah darah. Ketika ayah Yoas terbunuh, Atalya (nenek Yoas) merebut
tahta, dan membunuh cucu-cucunya sendiri. Di saat genting itu, Yosabat (bibi
Yoas) dan Yoyada (suami Yosabat) bertaruh nyawa menyelamatkan Yoas, pewaris
takhta yang saat itu masih bayi. Mereka melindungi, dan membimbingnya hidup di
jalan Tuhan. Ketika Yoyada berhasil mengembalikan takhta kepada Yoas, ia tetap
mendampingi agar Yoas selalu berjalan di jalan Tuhan (2 Tawarikh 24:2). Apakah
yang kita lihat dalam kisah itu? Ketika Yoas kecil dalam bahaya, tak berdaya
dan tak punya harapan, Yosabat dan Yoyada mempertaruhkan hidup mereka demi
hidup dan masa depan Yoas. Ketika Yoas amat membutuhkan, Yosabat dan Yoyada
merawatnya, dan membimbingnya hidup di jalan Tuhan. Untuk Yoas, yang sebenarnya
bukan anak mereka, mereka memberikan diri mereka sepenuhnya. Mereka mengambil
peran yang amat menentukan, dan itulah yang menyelamatkan Yoas. Dalam wujud dan
skala yang berbeda, anak-anak kita pun ada dalam bahaya besar. Mereka disergap
pelbagai ancaman: paham-paham yang salah, pornografi, narkoba, perdagangan
manusia, dan banyak lagi. Hidup mereka sedang direnggut. Hanya jika ada “Yosabat
dan Yoyada”, yang peduli dan sungguh hadir bagi mereka, anak-anak kita akan
memiliki kembali peluang, harapan, dan masa depan mereka. Berbahagialah kita,
para orangtua, jika kita telah dan akan selalu menjadi “Yosabat dan Yoyada”
bagi anak-anak kita –EE. JIKA ADA “YOSABAT DAN YOYADA”, YANG PEDULI DAN HADIR
BAGI MEREKA, ANAK-ANAK KITA MEMILIKI PELUANG, HARAPAN, DAN MASA DEPAN.

No comments:
Post a Comment