18 Maret 2013
Kebangkitan Kristus Memberikan Kemenangan. Yesus mati dan bangkit agar kita
HIDUP. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah
meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. (1 Korintus 15:25). Melalui
kematianNya & KebangkitanNya “SUDAH SELESAI” merupakan pekik
kemenangan Tuhan karena sekarang melalui diriNya kita dapat melepaskan diri
dari jerat Maut, iblis, Dosa, & semua tantangan & kesulitan! Yohanes
19:30, “Sesudah Yesus meminum anggur asam
itu, berkatalah Ia: Sudah selesai. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan
menyerahkan nyawa-Nya.” Amin. Tetap setia dalam Sarapan Pagi, Alami HIDUP
BERKEMENANGAN setiap hari bersama YESUS, amin!
Respon 1
RENUNGAN PAGI. Senin,
18 Maret 2013. “Ketika kita percaya bahwa sabar ada batasnya, kita menjadi
manusia biasa. Ketika kita meyakini bahwa sabar tidak ada batasnya, kita
mendidik diri menjadi manusia luar biasa.” Saat kita tak berdaya, Tuhan berikan
jaminan untuk mengangkat dan membebaskan kita asal kita mampu dan mau berserah
kepada-NYA. Mazmur 55:23, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan
memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu
goyah.” Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana
kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan
inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan
kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di
sana. (Bilangan 13:27-28). Mereka semua orang pilihan, terkemuka di sukunya,
kepala-kepala di antara orang Israel. Mungkin saat ini pun kita menempati posisi
yang sama. Kita dipercaya untuk memimpin, terkemuka. Sadarkah kita, ucapan kita
mampu membuat orang lain bangkit atau terpuruk? Ucapan kita mampu membuat orang
lain bersemangat ataupun lemah? Jadi masih sempatkah kita memikirkan setiap
kata yang keluar dari mulut kita? Kita dipercaya, biarlah kita dapat menjadi
orang yang dapat dipercaya. Tuhan Yesus memberkati. Hav a good Monday sahabat.
Respon 2
Berkat TUHAN tidak
pernah sebentar, selalu baru tiap hari. Selamat menikmati kasih dan berkat
Tuhan yang berkelimpahan. Good morning. God bless you all the time.
Respon 3
Sebab Engkaulah yang
memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu
seperti perisai (Mazmur 5:13). Abraham, Ishak, Yakub mengucapkan berkat pada
anak-anaknya. Paulus mengucapkan berkat buat jemaat Tuhan. Yesus memberi berkat
kepada kita semua. Biar kita juga mengucapkan berkat buat keluarga, pekerjaan
kita, dll. Awesome weeks.
Respon 4
Ketika kita berada
dalam kesusahan, memang sulit rasanya untuk mengucap syukur, tetapi itu tidak
mustahil. Kita bisa melihat kisah Daniel “berdoa dan memuji Allahnya.” (Dan
6:10) Ketika tahu bahwa kehidupannya ada dalam bahaya. Dalam segala situasi,
kita bisa bersyukur bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan kita sendiri.
Respon 5
Ya amin. Hari ini
firman Tuhan datang pada kita sebagai orang, untuk selalu memberi peringatan
pada anak-anak kita “menanamkan nilai-nilai kebenaran, mencintai kebenaran.”
Menanamkan hikmat Tuhan dalam hidup mereka, membawa anak-anak kita mempunyai
kualitas dan kapasitas, agar tidak menjadi bahan yang menertawakan orang. Tapi
jadilah unggul dalam disiplin, amin. Sarapan pagi membuat kita lebih bergairah
bersukacita menjalani hari-hari depan. Amin. (Amsal 4:7-8) JBU.
Respon 6
“JANGANLAH MENGELUH
KARENA TANGAN YANG BELUM DAPAT MENGGAPAI BINTANG, TAPI BERSYUKURLAH KARENA KAKI
YANG MASIH DAPAT MENGINJAK BUMI.” Apabila belum sanggup menjadi PENSIL untuk
menuliskan kebahagiaan bagi seseorang, maka cobalah menjadi PENGHAPUS yang
dapat menghapus kesedihan seseorang. Rumput mengajarkan banyak keteladanan,
utamanya mental ketahanan dan kesuksesan. Setiap hari diinjak-injak, disabit,
bahkan dicabut dari tanah, tapi esok harinya tumbuh kembali. Rumput tidak akan
mati hanya dengan sekali injak, bahkan ribuan kaki menginjaknya setiap hari ia
akan tetap hidup dan tetap bangkit. Itulah MENTAL PEMENANG.
Respon 7
Eliana yang berusia
empat tahun sedang membantu ibunya merapikan beberapa barangnya sebelum ia
tidur. Ketika sang ibu meminta Eliana untuk menyingkirkan pakaian dari tempat
tidur, Eliana pun kehilangan kesabarannya. Ia berpaling, menaruh kedua tangan
kecilnya di pinggul, lalu berkata, “Aku tak bisa melakukan semuanya!” Pernahkah
Anda merasa seperti itu dengan tugas yang Allah minta untuk Anda lakukan?
Gampang sekali merasa kewalahan dengan segala urusan kita dalam pelayanan
Gereja, bersaksi, dan membina keluarga. Bisa jadi kita mengeluh dengan jengkel
dan berdoa, “Tuhan, aku tak bisa melakukan semua itu!” Namun instruksi Allah
menunjukkan bahwa tuntutan-Nya tidaklah memberatkan. Sebagai contoh, dalam
hubungan kita dengan sesama, Dia memberi kita batasan: “Sedapat-dapatnya, kalau
hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma
12:18). Allah mengerti keterbatasan kita. Atau ini: “Apapun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan” (Kolose 3:23).
Allah tidak menuntut kesempurnaan agar kita membuat orang lain terkesan, tetapi
hanya untuk memuliakan Dia dengan pekerjaan yang kita lakukan. Dan satu lagi:
“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah
melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Galatia 6:4).
Kita tidak melakukan pekerjaan kita untuk bersaing dengan orang lain, tetapi
hanya untuk memikul beban kita sendiri. Dalam hikmatNya, Allah telah
memperlengkapi kita hanya untuk melakukan apa yang Dia inginkan kita kerjakan –
dan itu artinya bukan semua hal! – JDB. Dia beriku tugas agar kubersandar
kepadaNya, Dia beriku daya untuk melakukan tugas yang berat; Dan kala
kuberjalan dalam anugerahNya, Kurasakan sukacita melangkah bersamaNya –
Gustafson. Ketika Allah memberi tugas, diberiNya juga kemampuan untuk
menunaikannya.
No comments:
Post a Comment