Thursday, 6 June 2013

6 Juni 2013



06 Juni 2013
IBU yang BERHASIL. 1 Raja-Raja 2:18-20, “Jawab Batsyeba: Baik, aku akan membicarakan hal itu untuk engkau dengan raja. Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku. Jawab raja kepadanya: Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.” Yehezkiel 16:44, “Lihat, setiap penyair akan mengatakan sindiran ini mengenai engkau: Begitu ibu, begitu anak!” Peranan seorang Ibu sangat penting. Penerus seorang Ibu pun lebih besar dari seorang ayah, karena Ibu berperan MENGASUH & MENDIDIK anak-anaknya, KEBERHASILAN seorang anak merupakan salah satu indikasi KEBERHASILAN orang tua di dalam mendidik anak-anaknya, dan jangan lupa ajarkan firman Tuhan kepada anak-anak secara berulang-ulang. Ulangan 6:7, “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Sampai anak-anak kita boleh MENGHIDUPI KEBENARAN firmanNya, niscaya KEBERHASILAN akan terbuka baginya! Sudahkah kita menjadi Ibu yang komunikatif, Ibu yang BERHASIL?

Respon 1
Siang Tante, makasi firmannya. Gbu.

Respon 2
“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11). Banyak orang akhir-akhir ini merasa kecewa pada Tuhan, seakan-akan Tuhan berhutang kepadanya dan Dia lupa membayar atau Tuhan menyebabkan dia rugi atau Tuhan menjanjikan sesuatu dan tidak menepatinya. Kenapa orang jadi kecewa kepada Tuhan? Sebagian besar terjadi karena pemahaman yang keliru akan kasih Allah. Ia hanya bisa memahami kasih Kristus itu bila ada kesembuhan, mukjizat, dapat berkat materi, dapat pekerjaan, karir yang meningkat, dan sebagainya. Sulit baginya memahami kasih Kristus yang sudah menyelamatkannya itu, apalagi kalau dia miskin, menderita sakit yang berat. Orang yang berpikir kanak-kanak selalu memerlukan tanda dan harus ada wujudnya, barulah dia bisa memahami kasih itu. Bagi orang yang dewasa dalam iman, mau sakit kek, mau kaya kek, mengalami masalah yang pelik kek, baginya tidak ada masalah, karena dia semakin memahami kasih Tuhan. Kasih Tuhan itu identik dengan pemeliharaan hidup, di mana kita semakin hari semakin mengerti kehendak Tuhan itu. Selain itu banyak orang menafsirkan ayat-ayat Alkitab secara serampangan, misalnya, yang percaya kepada Tuhan pasti dapat kekayaan, makmur dalam materi, tidak ada marabahaya, kemiskinan. Kalau memberi persembahan, Tuhan pasti akan mengembalikan berpuluh kali lipat ganda. Mereka mengartikan ayat-ayat secara fragmentaris, bukan secara totalitas. Lalu, berhakkah kita kecewa kepada Tuhan? Tuhan tidak pernah berhutang kepada manusia. Manusia yang justru berhutang kepada Tuhan yang seharusnya dikatakan adalah kitalah yang mengecewakan Tuhan, bukan Tuhan yang mengecewakan kita. Tuhan tidak pernah menjanjikan sesuatu yang Dia sendiri tidak melunasiNya. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment