Wednesday, 25 June 2014

25 Jun 2014 - Berani Mengasihi Musuh



Matius 5:44a, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu” Allah Rindu kita menaruh belas kasihan kepada musuh-musuh kita / orang yang membutuhkan kasih kita? Karena hati-Nya pun menaruh belas kasihan kepada kita. “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.” (Mazmur 112:5). Kasih adalah wujid nyata dari iman orang percaya Amin! Sudahkah kita mengasihi  musuh kita?

Respon 1
Matius 5:44a, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu” Hm, jangankan musuh, buat orang yang tidak sepaham dengan kita aja kita kadang tidak suka, tidak mau nyapa, tidak mau berbicara, tidak mau lihat, apalagi mengasihi mereka rasanya kok tidak mung-kin. Tapi ini adalah perintah Tuhan. Kasihilah musuhmu. Ego kita yang menyebabkan kita tidak bisa mengampuni dan mengasihi. Jadi kita harus meletakan keakuan kita ini ke altarnya Tuhan, baru kita bisa menjadi pelaku firman. Sudahkah pagi ini kita datang pada Tuhan dan berbicara sama Tuhan, berdaulat-lah atas hidupku Tuhan. Aku mau taat pada perintah-Mu.


Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu, 25 Juni 2014. Praise God. “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera” (Roma 14:19). Kunci untuk memiliki sukacita yang sejati & dikuasai damai sejahtera Allah tidak ada lain kecuali menyerahkan kendali hidup kita secara total kepada Allah. Sebab berserah total berarti kita mempercayakan hidup kita kepada pengaturan & pimpinan kasih-Nya. Percaya bahwa apapun yang Dia ijinkan terjadi dalam hidup kita tidak lepas dari kasih-Nya.  Dia  punya  jalan  keluarnya.  Dia  yang paling tahu apa yang harus dilakukan. Dia pencipta kita yang tahu detil pribadi & hidup kita, kita terbatas, Dia tidak terbatas. Bagaimana mengetahui apakah kita telah berserah kepada Allah adalah makin hari makin taat. Inilah sikap hati yang taat secara total: “Αpa yang Allah katakan, saya melaku-kannya. Terlepas dari saya mengerti atau tidak maksud & tujuan Allah, apakah itu mungkin atau tidak, sulit atau mudah, saya akan tetap berjuang melaksanakannya.” Dengan mende-ngarkan firman Tuhan & mengikuti arahan-Nya, hasilnya pasti selalu sama: damai sejah-tera. Hari ini, kita mungkin sedang berada di tengah-tengah keadaan yang kacau balau. Ketaatan mengikuti arahan-Nya akan mem-bawa kita mengalami damai sejahtera Allah. Tapi pertama-tama, kita harus berdamai dengan Allah: membereskan pikiran, hati & hidup kita, membuang segala hal (dosa, ketidaktaatan, keraguan) yang menghalangi kita berdamai dengan Allah.  Kita tidak dapat mengalami damai sejahtera Allah sebelum berdamai denganya. Saat kita berusaha mengendalikan banyak hal dalam hidup kita, hasilnya pasti khawatir, rasa bersalah, kepahitan, kebencian, kecemasan, ketakutan, kelelahan, depresi, dan putus asa. Saat kita menyerah total melalui ketaatan kepada Allah, kita sedang menyerahkan kendali kepada-Nya. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu & apa yang Kuberikan 'tidak seperti' yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah & gentar hatimu” (Yohanes 14:27). Selamat pagi. Τuhan Yesus memberkati.


Respon 3
1Tesalonika 5:18, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagimu! Yuk belajar bersyukur, bersyukur, dan bersyukur! Samuel Sianto (SS) - YESTOYA Malang.


JESUS BLESS

No comments:

Post a Comment