Thursday, 19 June 2014

19 Juni 2014



“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;” (1 Tesalonika 5:12). Amin. Apakah kita anak-anak Tuhan sudah menghormati pemimpin-pemimpin rohani kita? Penting bagi kita untuk menghormati, menghargai dan mengasihi pemimpin-pemimpin rohani kita karena mereka yang berjaga-jaga (berdoa) atas jiwa kita. “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” (Ibrani 13:17a) Amin.


Respon 1
SAAT TEDUH. Kamis, 19 Juni 2014. Praise God. “...maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggi-kan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur daripadaku” (2 Korintus 12:7-10). Hal tersulit dalam hidup bukanlah pergumulan yang ada di luar kita, tapi yang di dalam. Saat kita menghadapi hal-hal yang tidak bisa kita ubah, kita akan kehilangan damai sejahtera karena diri kita penuh dengan khawatir, kecewa, geram, sibuk mencari cara untuk berusaha dapat mengubahnya. Menjadi marah - pahit dengan hal-hal yang tak dapat kita ubah tidak akan memberi kita ketenangan. Merasa bersalah terhadap hal-hal yang tidak dapat kita ubah tidak akan memberi kita ketentraman. Hanya ada 1 hal yang akan membawa kedamaian dalam hidup kita, yaitu: menerima  apa  yang  tidak  dapat  kita  ubah. 


Apapun yang kita rasa & pikirkan, kita harus bisa menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah & berdamai dengan keadan itu. Salah 1 bukti bahwa selalu ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah: kita tidak pernah bisa mengubah arah matahari terbit & tenggelam. Kita tidak perlu stress terhadap keadaan itu tapi meneri-ma & beradaptasi terhadap-Nya. Kita dapat mempercayai bahwa apa yang Tuhan ijinkan terjadi memiliki tujuan: duri dalam daging disadari Paulus supaya ia tidak meninggikan diri, menghindarkan dari jatuh dalam dosa yang lebih besar. Tapi jawab Tuhan kepada-ku: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (Ayat 11). Paulus pun ingin mengubah keadaan & ia bisa saja bersungut-sungut kepada Tuhan memper-tanyakan apa yang terjadi pada dirinya. Tapi sebaliknya, ia tetap percaya pada-Nya untuk melalui hal-hal yang tidak dapat ia ubah, serta memilih untuk memuliakan-Nya. Kunci untuk menerima keadaan yang tidak bisa kita ubah adalah tetap percayai hati & tujuan Tuhan, melihat segala sesuatu dari sisi Tuhan bukan dari kekhawatiran & pikiran kita sendiri, menerima dengan rela tanpa memaksa, tetap tekun melakukan kebenaran firman  Tuhan dalam meresponinya, melibatkan Roh Kudus dalam melakukannya sebab dalam hal ini juga fungsi Roh Kudus. Selamat pagi. Jesus bless you all.


No comments:

Post a Comment