“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya
kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu
dalam Tuhan dan yang menegor kamu;” (1 Tesalonika 5:12). Amin. Apakah kita anak-anak Tuhan sudah menghormati
pemimpin-pemimpin rohani kita? Penting bagi kita untuk menghormati, menghargai
dan mengasihi pemimpin-pemimpin rohani kita karena mereka yang berjaga-jaga (berdoa)
atas jiwa kita. “Taatilah
pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas
jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” (Ibrani
13:17a) Amin.
Respon 1
SAAT TEDUH. Kamis,
19 Juni 2014. Praise God. “...maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku,
yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggi-kan
diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan
iblis itu mundur daripadaku” (2 Korintus 12:7-10). Hal tersulit dalam hidup
bukanlah pergumulan yang ada di luar kita, tapi yang di dalam. Saat kita
menghadapi hal-hal yang tidak bisa kita ubah, kita akan kehilangan damai
sejahtera karena diri kita penuh dengan khawatir, kecewa, geram, sibuk mencari
cara untuk berusaha dapat mengubahnya. Menjadi marah - pahit dengan hal-hal yang
tak dapat kita ubah tidak akan memberi kita ketenangan. Merasa bersalah terhadap
hal-hal yang tidak dapat kita ubah tidak akan memberi kita ketentraman. Hanya
ada 1 hal yang akan membawa kedamaian dalam hidup kita, yaitu: menerima apa yang tidak dapat
kita
ubah.
Apapun yang kita
rasa & pikirkan, kita harus bisa menerima hal-hal yang tidak dapat kita
ubah & berdamai dengan keadan itu. Salah 1 bukti bahwa selalu ada hal-hal yang
tidak bisa kita ubah: kita tidak pernah bisa mengubah arah matahari terbit
& tenggelam. Kita tidak perlu stress terhadap keadaan itu tapi meneri-ma
& beradaptasi terhadap-Nya. Kita dapat mempercayai bahwa apa yang Tuhan
ijinkan terjadi memiliki tujuan: duri dalam daging disadari Paulus supaya ia
tidak meninggikan diri, menghindarkan dari jatuh dalam dosa yang lebih besar. Tapi
jawab Tuhan kepada-ku: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam
kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (Ayat 11). Paulus pun ingin mengubah keadaan
& ia bisa saja bersungut-sungut kepada Tuhan memper-tanyakan apa yang terjadi
pada dirinya. Tapi sebaliknya, ia tetap percaya pada-Nya untuk melalui hal-hal yang
tidak dapat ia ubah, serta memilih untuk memuliakan-Nya. Kunci untuk menerima keadaan yang
tidak bisa kita ubah adalah tetap percayai hati & tujuan Tuhan, melihat
segala sesuatu dari sisi Tuhan bukan dari kekhawatiran & pikiran kita
sendiri, menerima dengan rela tanpa memaksa, tetap tekun melakukan kebenaran firman Tuhan dalam meresponinya, melibatkan Roh
Kudus dalam melakukannya sebab dalam hal ini juga fungsi Roh Kudus. Selamat
pagi. Jesus bless you all.
No comments:
Post a Comment