Amsal 15:1, “Jawaban yang lemah lembut meredakan
kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Tutur kata
kita sebagai anak-anak Tuhan hendaklah menyenangkan,
menarik, baik hati & sangat ramah
J. Perkataan yang
kita keluarkan harus merupakan hasil dari peker-jaan Kasih Karunia Allah di dalam hati kita & perkataan kebenaran yang
penuh kasih, sopan & tegas! Jangan
Pedas.
Respon 1
Amsal 15:1, ‘Jawaban
yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas
membangkitkan marah.’ Sadar nggak sih kita di dalam berkomunikasi, kita sering
bertengkar hanya karena kata-kata yang menurut kita ‘menyakitkan’. Kata-kata
biasa bisa menjadi kata-kata negatif. Kalau disertai dengan intonasi yang
berbeda. Kadang kita ditanyai sama pasangan “gimana menurut kamu kalau bla, bla,
bla..?” kita bisa menjawab dengan kata yang sama yaitu “terserah...” tanpa
tekanan dan itu bisa diterima pasangan dengan baik. Tapi kita kadang menjawab “terserah!!!”
dengan tekanan keras yang nggak enak didengar. Ini yang seringkali menyulut
pertengkaran. Firman Tuhan hari ini mengingatkan aku supaya aku bicara selain kata-kata
positif, juga belajar intonasi, karena ‘perkataan pedas’ itu lebih terasa pedas
jika diperkatakan dengan tekanan “!!!”
Hmmm, susah ya berkomunikasi yang
benar yang nggak menyakiti hati orang, yang nggak membuat orang marah, yang
bisa membangun diri sendiri dan orang lain. Harus bisa menguasai diri dalam berkata-kata.
Dan kemarin diingatkan harus jaga hati karena apa yang kita omongkan itu meluap
dari hati. Kalau hati lagi nggak enak biasanya yang keluar ya kata-kata nggak
enak dan intonasinya juga nggak enak didengar. Ayo belajar, belajar, belajar. Happy
Friday, menjelang holiday.
Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat, 25 Juli 2014. MENGALIHKAN PERHATIAN.
Tak berke-sudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru
tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:21-23). Ada hal-hal yang senang saya
lihat di pagi hari. Bunga-bunga yang semalam menguncup, kembali mekar berseri;
anak-anak sekolah melangkah penuh semangat; sayuran segar tertata rapi di gerobak penjual sayur;
langit biru memben-tang menggantikan gelap malam; sinar matahari terasa hangat
menyentuh kulit. Memperhatikan ‘sapaan Tuhan’ itu, segala penat kemarin seolah
sirna, semangat saya diperbarui lagi. Di tengah penderitaan, penulis kitab
Ratapan mengarahkan perhatiannya pada hal yang tepat. Ia tidak berfokus pada situasi,
tetapi pada kasih setia Tuhan. Ia memperhatikan pagi demi pagi berganti, &
tahu bahwa itu dimungkinkan karena pemeliharaan Tuhan yang setia, Ia sadar bahwa
yang terpenting bagi jiwanya adalah Tuhan, bukan hal yang lain. Di dalam
penderitaan & tekanan hidup, ia percaya akan kebaikan Tuhan. Itulah
sukacita dan peng-harapannya. Sekalipun tampaknya Tuhan tak segera
menyelesaikan masalah, namun ia yakin Tuhan tahu waktu yang terbaik untuk segala
sesuatu, jadi ia pun menanti. Hal apakah yang hari-hari ini merampas perhatian
Anda? Badai masalah? Tekanan hidup? Alihkan perhatian Anda kepada
Allah & berharap-lah kepada-Nya. Kesetiaan-Nya tampak jelas bahkan lewat hal-hal
sesederhana sinar mentari & udara pagi.
Perhatikan bagaimana Dia mencukupkan dalam kebutuhan sehari-hari, bahkan
ketika terkadang kita lupa memohonnya. Perhatikan pertumbuhan karakter yang
dimunculkannya dalam diri Anda melalui beragam situasi sulit. Perhatikan
pertolongan-Nya yang selalu tepat waktu. Ya, perhatikan & perhatikanlah
lagi. Anda akan terheran-heran akan penyertaan & kasihNya yang selama ini Anda
ragukan. Selamat pagi... Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment