Friday, 25 July 2014

25 Juli 2014



Amsal 15:1, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Tutur kata kita sebagai anak-anak Tuhan hendaklah menyenangkan, menarik, baik hati & sangat ramah J. Perkataan yang kita keluarkan harus merupakan hasil dari peker-jaan Kasih Karunia Allah di dalam hati kita & perkataan kebenaran yang penuh kasih, sopan & tegas! Jangan Pedas.


Respon 1
Amsal 15:1, ‘Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.’ Sadar nggak sih kita di dalam berkomunikasi, kita sering bertengkar hanya karena kata-kata yang menurut kita ‘menyakitkan’. Kata-kata biasa bisa menjadi kata-kata negatif. Kalau disertai dengan intonasi yang berbeda. Kadang kita ditanyai sama pasangan “gimana menurut kamu kalau bla, bla, bla..?” kita bisa menjawab dengan kata yang sama yaitu “terserah...” tanpa tekanan dan itu bisa diterima pasangan dengan baik. Tapi kita kadang menjawab “terserah!!!” dengan tekanan keras yang nggak enak didengar. Ini yang seringkali menyulut pertengkaran. Firman Tuhan hari ini mengingatkan aku supaya aku bicara selain kata-kata positif, juga belajar intonasi, karena ‘perkataan pedas’ itu lebih terasa pedas jika diperkatakan dengan  tekanan  “!!!”  Hmmm,  susah ya berkomunikasi yang benar yang nggak menyakiti hati orang, yang nggak membuat orang marah, yang bisa membangun diri sendiri dan orang lain. Harus bisa menguasai diri dalam berkata-kata. Dan kemarin diingatkan harus jaga hati karena apa yang kita omongkan itu meluap dari hati. Kalau hati lagi nggak enak biasanya yang keluar ya kata-kata nggak enak dan intonasinya juga nggak enak didengar. Ayo belajar, belajar, belajar. Happy Friday, menjelang holiday.

Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat, 25 Juli 2014. MENGALIHKAN PERHATIAN. Tak berke-sudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:21-23). Ada hal-hal yang senang saya lihat di pagi hari. Bunga-bunga yang semalam menguncup, kembali mekar berseri; anak-anak sekolah melangkah penuh semangat; sayuran segar tertata rapi di gerobak penjual sayur; langit biru memben-tang menggantikan gelap malam; sinar matahari terasa hangat menyentuh kulit. Memperhatikan ‘sapaan Tuhan’ itu, segala penat kemarin seolah sirna, semangat saya diperbarui lagi. Di tengah penderitaan, penulis kitab Ratapan mengarahkan perhatiannya pada hal yang tepat. Ia tidak berfokus pada situasi, tetapi pada kasih setia Tuhan. Ia memperhatikan pagi demi pagi berganti, & tahu bahwa itu dimungkinkan karena pemeliharaan Tuhan yang setia, Ia sadar bahwa yang terpenting bagi jiwanya adalah Tuhan, bukan hal yang lain. Di dalam penderitaan & tekanan hidup, ia percaya akan kebaikan Tuhan. Itulah sukacita dan peng-harapannya. Sekalipun tampaknya Tuhan tak segera menyelesaikan masalah, namun ia yakin Tuhan tahu waktu yang terbaik untuk segala sesuatu, jadi ia pun menanti. Hal apakah yang hari-hari ini merampas perhatian Anda? Badai masalah? Tekanan hidup? Alihkan perhatian Anda kepada Allah & berharap-lah kepada-Nya. Kesetiaan-Nya tampak jelas bahkan lewat hal-hal sesederhana sinar mentari & udara pagi.  Perhatikan bagaimana Dia mencukupkan dalam kebutuhan sehari-hari, bahkan ketika terkadang kita lupa memohonnya. Perhatikan pertumbuhan karakter yang dimunculkannya dalam diri Anda melalui beragam situasi sulit. Perhatikan pertolongan-Nya yang selalu tepat waktu. Ya, perhatikan & perhatikanlah lagi. Anda akan terheran-heran akan penyertaan & kasihNya yang selama ini Anda ragukan. Selamat pagi... Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment