Tuesday, 3 July 2012

3 Juli 2012



03 Juli
Tidak mudah mewujudkan keramahtamahan dan tahu berterima kasih, diperlukan kesediaan untuk berkorban! Pernahkan saudara membuka hati dan pintu rumah saudara untuk menjamu orang lain? (Sekalipun tetap harus dilakukan dengan bijak). Keluaran 2:20-22, “Ia berkata kepada anak-anaknya: Di manakah ia? Mengapakah kamu tinggalkan orang itu? Panggillah dia makan.Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab katanya: Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.”

Respon
Iya Ibu, terkadang kalau saya mau jujur, mudah bagi saya untuk membuka hati dan rumah saya bagi orang-orang yang sudah saya kenal, ataupun pada orang yang masih ada hubungan saudara! Namun sulit bagi saya jika harus membuka pintu bagi orang asing yang belum saya kenal! Akan tetapi firman Tuhan berkata di dalam firmanNya: langit adalah tahtaKu! Dan bumi adalah tumpuan kakiKu! Rumah apakah yang akan engkau dirikan bagiKu! Dan tempat apakah yang akan menjadi penghentianKu! (Yesaya 66:1) Hati saya benar-benar merasa tertusuk Ibu, dengan air mata yang mengalir di dalam saya membaca firmanNya malam itu, bergegas saya menyadari, betapa seringnya saya tidak menyadari kalau Tuhan seringkali datang ke rumah dengan mengambil rupa yang tidak pernah masuk dalam hitungan manusia! Hanya untuk memastikan apakah benar bahwa saya sungguh-sungguh mengasihi IA! Dengan itu saya akan belajar dan belajar untuk lebih lagi untuk membuka hati. Amin. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment