03
Juli
Tidak mudah mewujudkan keramahtamahan
dan tahu berterima kasih, diperlukan kesediaan untuk berkorban! Pernahkan
saudara membuka hati dan pintu rumah saudara untuk menjamu orang lain?
(Sekalipun tetap harus dilakukan dengan bijak). Keluaran 2:20-22, “Ia berkata kepada anak-anaknya: Di manakah
ia? Mengapakah kamu tinggalkan orang itu? Panggillah dia makan.Musa bersedia
tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa.
Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom,
sebab katanya: Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.”
Respon
Iya Ibu, terkadang kalau saya
mau jujur, mudah bagi saya untuk membuka hati dan rumah saya bagi orang-orang
yang sudah saya kenal, ataupun pada orang yang masih ada hubungan saudara!
Namun sulit bagi saya jika harus membuka pintu bagi orang asing yang belum saya
kenal! Akan tetapi firman Tuhan berkata di dalam firmanNya: langit adalah
tahtaKu! Dan bumi adalah tumpuan kakiKu! Rumah apakah yang akan engkau dirikan
bagiKu! Dan tempat apakah yang akan menjadi penghentianKu! (Yesaya 66:1) Hati
saya benar-benar merasa tertusuk Ibu, dengan air mata yang mengalir di dalam
saya membaca firmanNya malam itu, bergegas saya menyadari, betapa seringnya
saya tidak menyadari kalau Tuhan seringkali datang ke rumah dengan mengambil
rupa yang tidak pernah masuk dalam hitungan manusia! Hanya untuk memastikan
apakah benar bahwa saya sungguh-sungguh mengasihi IA! Dengan itu saya akan
belajar dan belajar untuk lebih lagi untuk membuka hati. Amin. Tuhan
memberkati.
No comments:
Post a Comment