Thursday, 31 January 2013

Murid Kristus



Murid Kristus
Build My Home – Eddy Leo

      Di dalam seluruh kitab perjanjian baru tecatat 269 kali kata “murid”, sedangkan kata “Kristen” hanya tercatat 3 kali, dan itupun ditujukan kepada murid-murid Kristus. Walaupun kata “murid” adalah kata yang begitu penting sehingga perlu berulang-ulang ditulis, namun gereja sekarang telah banyak mengabaikannya. Gereja sekarang lebih banyak merasa puas apabila anggota jemaatnya telah menjadi pemeluk agama Kristen dan aktif beribadah serta menjadi pemanas bangku ibadah.
      Ada pula gereja yang menawarkan berbagai “program pemuridan” seperti kelas-kelas, seminar-seminar, kelompok-kelompok kecil pemuridan. Gereja yang demikian tentu lebih baik dari gereja yang jemaatnya hanya beribadah pada hari Minggu. Namun apabila diamati lebih seksama, ternyata program-program pemuridan yang demikian sangat tidak efektif dalam menghasilkan perubahan hidup dan kepemimpinan. Oleh sebab itu, apabila kita mengamati gereja dengan jujur, kita dapat melihat bahwa kualitas karakter gereja tidak terlalu berbeda dengan karakter dunia ini. Gereja rasanya masih jauh dari keserupaan dengan Kristus seperti pada gereja mula-mula.
      Mengapa gereja masa kini seperti itu? Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Namun, salah satu faktor penyebab yang utama adalah karena adanya kekeliruan konsep pemuridan, dan juga karena metode pemuridan yang tidak efektif.
      Pemuridan adalah sebuah proses di mana seorang percaya dengan contoh hidup membiarkan Kristus memakainya sebagai alat untuk melayani sejumlah orang tertentu dalam waktu tertentu, dalam perjumpaan satu demi satu (one on one), untuk mencapai keserupaan Kristus (potensi maksimalnya), demi tujuan pembangunan rumah Tuhan, serta mereproduksi dirinya sampai generasi ketiga. Tuhan memerintahkan kepada semua muridNya, bukan hanya kepada rasul-rasulNya saja, semua orang percaya/orang kudus, dari pemimpin tertinggi sampai orang yang baru percaya (Matius 28:19-20) untuk melakukan pemuridan.
      Inti pemuridan dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu menjadi “contoh” atau “model”. Ada seorang anak kecil berusia 4 tahun, lari dari rumah karena terancam disiksa oleh orang tuanya. Namun, ia tersesat di hutan, dan setelah belasan tahun kemudian ia ditemukan telah hidup sama seperti monyet. Anak tersebut bertingkah laku seperti monyet, tidak dapat berjalan tegak, dan tidak dapat berbicara bahasa manusia.
      Mengapa anak tersebut tidak hidup normal seperti manusia-manusia lainnya, padahal ia adalah manusia sejati? Penyebabnya adalah karena ia tidak terus-menerus melihat contoh manusia normal lainnya, tetapi melihat contoh dari monyet-monyet yang menerimanya di hutan.
      Demikian pula begitu pentingnya peranan contoh dalam menuntun orang lain untuk mencapai potensi maksimalnya, yaitu keserupaan dengan Kristus. Jadi satu-satunya jalan untuk belajar adalah melalui contoh atau model.
      Kristus berkata, “Jadikanlah sekalian bangsa muridKu..” (Matius 28:19). Dulu ketika Kristus datang ke dunia sebagai manusia, Ia-lah yang menjadikan orang-orang menjadi muridNya atau pengikutNya (Matius 4:19, Lukas 9:23-24). Setelah Ia mati, bangkit, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia tetap melakukan pemuridan. Ia tetap menjadikan orang-orang muridNya, tetapi sekarang melalui tubuhNya, yaitu murid-muridNya (Matius 28:19-20). Jadi pemuridan bukanlah menjadikan orang murid kita, tetapi menjadikan orang murid Kristus.
      Ada 2 hal ekstrim dalam pemuridan:
a)      Tidak perlu peranan orang lain untuk menjadikan kita murid, karena kita langsung murid Kristus. Ini prinsip yang salah. Kita perlu adanya model.
b)      Menjadikan orang lain berpusatkan diri kita, sehingga orang lain mengikuti kita, bukan Kristus. Ini dapat mengarah kepada pembinaan yang bersifat kontrol manusia.
      Seharusnya konsep pemuridan yang benar adalah: “Kristus memakai anggota tubuhNya, untuk menjadikan seseorang muridNya.” Jadi Kristuslah yang memuridkan, sedangkan peranan si pembuat murid adalah sebagai anggota tubuh yang dipakai sebagai alat untuk mengekspresikan Kristus. Jadi diperlukan seseorang untuk “menjadikan” orang lain murid Kristus. Ingat! Satu-satunya cara Kristus membuat murid adalah melalui seseorang yang terlebih dahulu dimuridkan.
      Melayani adalah sikap hati yang terutama, yang harus dimiliki oleh seorang pembuat murid. Di dalam pemuridan tidak boleh terjadi kontrol, manipulasi, dominasi dari si pembuat murid agar si murid mengikuti kemauan si pembuat murid dan bukan kemauan Kristus. Seharusnya si pemurid adalah seorang pelayan atau hamba yang siap melayani agar Kristus dapat berekspresi untuk menjadikan orang lain murid Kristus (Markus 10:42-45). Apabila seorang pembuat murid tidak melayani dengan hati hamba melainkan seperti orang yang memerintah (kontrol), maka yang dimuridkan berhak menasihati si pembuat murid, bahkan dapat melaporkannya kepada pembuat murid di atasnya. Hanya orang yang berhati hamba yang dapat mengekspresikan Kristus, sedangkan orang yang berhati “bos/raja” hanya akan mengekspresikan “diri sendiri/ego” (1 Petrus 5:1-6).










Murid Kristus
Build My Home – Eddy Leo

      Di dalam seluruh kitab perjanjian baru tecatat 269 kali kata “murid”, sedangkan kata “Kristen” hanya tercatat 3 kali, dan itupun ditujukan kepada murid-murid Kristus. Walaupun kata “murid” adalah kata yang begitu penting sehingga perlu berulang-ulang ditulis, namun gereja sekarang telah banyak mengabaikannya. Gereja sekarang lebih banyak merasa puas apabila anggota jemaatnya telah menjadi pemeluk agama Kristen dan aktif beribadah serta menjadi pemanas bangku ibadah.
      Ada pula gereja yang menawarkan berbagai “program pemuridan” seperti kelas-kelas, seminar-seminar, kelompok-kelompok kecil pemuridan. Gereja yang demikian tentu lebih baik dari gereja yang jemaatnya hanya beribadah pada hari Minggu. Namun apabila diamati lebih seksama, ternyata program-program pemuridan yang demikian sangat tidak efektif dalam menghasilkan perubahan hidup dan kepemimpinan. Oleh sebab itu, apabila kita mengamati gereja dengan jujur, kita dapat melihat bahwa kualitas karakter gereja tidak terlalu berbeda dengan karakter dunia ini. Gereja rasanya masih jauh dari keserupaan dengan Kristus seperti pada gereja mula-mula.
      Mengapa gereja masa kini seperti itu? Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Namun, salah satu faktor penyebab yang utama adalah karena adanya kekeliruan konsep pemuridan, dan juga karena metode pemuridan yang tidak efektif.
      Pemuridan adalah sebuah proses di mana seorang percaya dengan contoh hidup membiarkan Kristus memakainya sebagai alat untuk melayani sejumlah orang tertentu dalam waktu tertentu, dalam perjumpaan satu demi satu (one on one), untuk mencapai keserupaan Kristus (potensi maksimalnya), demi tujuan pembangunan rumah Tuhan, serta mereproduksi dirinya sampai generasi ketiga. Tuhan memerintahkan kepada semua muridNya, bukan hanya kepada rasul-rasulNya saja, semua orang percaya/orang kudus, dari pemimpin tertinggi sampai orang yang baru percaya (Matius 28:19-20) untuk melakukan pemuridan.
      Inti pemuridan dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu menjadi “contoh” atau “model”. Ada seorang anak kecil berusia 4 tahun, lari dari rumah karena terancam disiksa oleh orang tuanya. Namun, ia tersesat di hutan, dan setelah belasan tahun kemudian ia ditemukan telah hidup sama seperti monyet. Anak tersebut bertingkah laku seperti monyet, tidak dapat berjalan tegak, dan tidak dapat berbicara bahasa manusia.
      Mengapa anak tersebut tidak hidup normal seperti manusia-manusia lainnya, padahal ia adalah manusia sejati? Penyebabnya adalah karena ia tidak terus-menerus melihat contoh manusia normal lainnya, tetapi melihat contoh dari monyet-monyet yang menerimanya di hutan.
      Demikian pula begitu pentingnya peranan contoh dalam menuntun orang lain untuk mencapai potensi maksimalnya, yaitu keserupaan dengan Kristus. Jadi satu-satunya jalan untuk belajar adalah melalui contoh atau model.
      Kristus berkata, “Jadikanlah sekalian bangsa muridKu..” (Matius 28:19). Dulu ketika Kristus datang ke dunia sebagai manusia, Ia-lah yang menjadikan orang-orang menjadi muridNya atau pengikutNya (Matius 4:19, Lukas 9:23-24). Setelah Ia mati, bangkit, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia tetap melakukan pemuridan. Ia tetap menjadikan orang-orang muridNya, tetapi sekarang melalui tubuhNya, yaitu murid-muridNya (Matius 28:19-20). Jadi pemuridan bukanlah menjadikan orang murid kita, tetapi menjadikan orang murid Kristus.
      Ada 2 hal ekstrim dalam pemuridan:
a)      Tidak perlu peranan orang lain untuk menjadikan kita murid, karena kita langsung murid Kristus. Ini prinsip yang salah. Kita perlu adanya model.
b)      Menjadikan orang lain berpusatkan diri kita, sehingga orang lain mengikuti kita, bukan Kristus. Ini dapat mengarah kepada pembinaan yang bersifat kontrol manusia.
      Seharusnya konsep pemuridan yang benar adalah: “Kristus memakai anggota tubuhNya, untuk menjadikan seseorang muridNya.” Jadi Kristuslah yang memuridkan, sedangkan peranan si pembuat murid adalah sebagai anggota tubuh yang dipakai sebagai alat untuk mengekspresikan Kristus. Jadi diperlukan seseorang untuk “menjadikan” orang lain murid Kristus. Ingat! Satu-satunya cara Kristus membuat murid adalah melalui seseorang yang terlebih dahulu dimuridkan.
      Melayani adalah sikap hati yang terutama, yang harus dimiliki oleh seorang pembuat murid. Di dalam pemuridan tidak boleh terjadi kontrol, manipulasi, dominasi dari si pembuat murid agar si murid mengikuti kemauan si pembuat murid dan bukan kemauan Kristus. Seharusnya si pemurid adalah seorang pelayan atau hamba yang siap melayani agar Kristus dapat berekspresi untuk menjadikan orang lain murid Kristus (Markus 10:42-45). Apabila seorang pembuat murid tidak melayani dengan hati hamba melainkan seperti orang yang memerintah (kontrol), maka yang dimuridkan berhak menasihati si pembuat murid, bahkan dapat melaporkannya kepada pembuat murid di atasnya. Hanya orang yang berhati hamba yang dapat mengekspresikan Kristus, sedangkan orang yang berhati “bos/raja” hanya akan mengekspresikan “diri sendiri/ego” (1 Petrus 5:1-6).








No comments:

Post a Comment