LONELYLESS
Morning with Jesus.
Minggu 16 Juni 2019.
#I'MALIVE
#LONELYLESS.
Lonely-less part 3 “Be real”
Intro:
Orang suka argue, soal boleh kaya atau miskin,
pada dasarnya kaya atau miskin tidak menentukan kondisi kerohanian seseorang.
Dari pada argue, di Alkitab mengajarkan soal: BIJAK.
Berarti, lebih dari boleh atau nggak boleh,
bisa atau nggak bisa, BIJAK itu penting.
Orang suka argue, (di area pergaulan, di area
relationship, di area konsumsi, di area kerja, dll) boleh nggak ini,
boleh nggak itu. Dari pada argue, di Alkitab mengajarkan soal:
berguna atau tidak? Dalam arti kata lain, BIJAK itu penting. Kalau BIJAK itu
penting. Maka kita semua perlu BIJAK dalam melindungi diri agar tidak LONELY,
supaya kita LONELY-less. Dan salah satu cara terbaik, untuk tidak
menjadi Lonely, di part ke 3, yang akan kita renungkan adalah tentang menjadi
real (nyata/asli)
- Ada banyak orang argue, baik di dalam
dirinya sendiri ataupun dengan orang lain, soal be real (menjadi
nyata/asli). Sebab, untuk menjadi NYATA/ASLI, itu pun ada tantangannnya.
ini tantangannya:
“People want to see the real you; but not
everyone, who expects to see the real you, can accept the real you”
(orang mau lihat aslinya Anda, tapi tidak semua orang
yang mau lihat aslinya Anda, bisa menerima aslinya Anda)
Yang perlu kita pikirkan, apa yang Alkitab mau
ajarkan soal: BIJAK dalam menjadi nyata/asli agar kita bisa LONELY-less.
Alkitab mengarahkan kita untuk melihat bagaimana
orang yang bernama Yesus dalam hal menjadi nyata/asli.
Di Alkitab 4 kitab Injil, bukan sekedar buku sejarah,
tapi 4 kitab Injil menjelaskan gambaran tentang siapa YESUS.
Matius – menjelaskan dan menggambarkan Yesus sebagai
RAJA
Markus – menjelaskan dan menggambarkan Yesus sebagai
HAMBA
Yohanes – menjelaskan dan menggambarkan Yesus sebagai
TUHAN
Lukas – menjelaskan dan menggambarkan Yesus sebagai
MANUSIA
Sesuai Stages of Development setiap manusia, orang
berkembang:
Physical, Cognitive dan Emotional (Fisik, Pikiran dan
Emosi)
Yesus mengalami hal yang sama.
Perkembangan psychology manusia:
Bayi, balita, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa
Yesus mengalami hal yang sama.
Tapi, secara perkembangan tujuan dan arti hidup, ada
sesuatu yang berbeda.
Manusia normal:
Lahir – bertumbuh – trying to fit in (apa yang budaya
harapkan dari kita) – belajar menjadi nyata (real) – membangun.
Kalau, Yesus:
Lahir – bertumbuh – menjadi nyata (real) –
engaging culture (merangkul budaya dan memasukkan budaya kerajaan Allah) –
membangun.
Dan di Injil Lukas, dia menunjukkan bagaimana proses;
Lukas 1 – Yesus lahir
Lukas 2-3 – Yesus bertumbuh
Mulai Lukas 4 dan seterusnya, Yesus menjadi nyata (real),
mebawa perubahan budaya dan membangun budaya serta value hidup manusia yang
lebih baik!
LUKAS 5:27-32
Kepada Yesus, tantangan yang sama pun terjadi:
(orang mau lihat aslinya Anda, tapi tidak semua orang
yang mau lihat aslinya Anda, bisa menerima aslinya Anda)
2 extreme, ketika membahas soal being real
(menjadi asli)
-Extreme pertama, adalah tipe orang yang berpikir,
kita harus terbuka, buka semuanya, cerita semuanya, share semuanya, kasih tahu
semuanya,
kalau nggak gitu, kita nggak akan bisa
jadi tim, family, dll.
-Extreme kedua, adalah tipe orang yang berpikir, kita
gak boleh terbuka.
Kalau kita terbuka, maka kita akan kehilangan
respect, kita akan kehilangan hormat, kita akan kehilangan kawan, dan kita
menolak menjadi real (asli)
Perhatikan baik-baik, bahwa:
Keterbukaan dengan kepantasan dan kebijaksanaan
adalah hikmat!
Fakta tentang Menjadi Asli:
I. Menjadi Asli adalah sebuah budaya.
Sebab ada budaya selain menjadi asli, yaitu: budaya
pura-pura. Budaya gengsi, minder, malu, sombong. Membuat orang harus
berpura-pura dan tidak bisa menjadi asli.
Di AOC kita ajarkan definisi dari budaya. Budaya
adalah apa yang kita ijinkan dan apa yang tidak kita ijinkan. Oleh karena itu
semua kita perlu membudayakan, hidup tanpa pura-pura. Budayakan menjadi asli. Butuh
waktu, butuh kebiasaan, butuh ketekunan, butuh keberanian. Tapi, budaya yang
sehat, membangun pribadi yang sehat! Budayakan menjadi asli.
II. Menjadi Asli adalah pembunuh kecurigaan
Curiga (apa lagi yang berlebihan), itu adalah bakteri
pembunuh. Pembunuh hubungan, keluarga, tempat kerja, semangat, kesatuan dan
kekompakan. Sebab: Kepura puraan itu merusak keaslian membangun kepercayaan. Menjadi
asli dengan kepantasan dan kebijaksanaan menolong menyingkirkan kecurigaan. Sebab
kepercayaan di nyalakan oleh keaslian.
III. Menjadi Asli adalah alat pemersatu
Dan ini adalah kesempatan terbesar yang di lewatkan
oleh banyak orang. Sebab, banyak orang berpikir, orang akan suka aku, respect
aku, hargai aku, kalau aku selalu terlihat kuat, percaya diri. Kenyataannya,
kita akan membunuh diri kita sendiri kalau kita hidup dalam kepura puraan.
Orang akan lebih suka kita, kalau kita real. Dan yang mempersatukan
hubungan, bukanlah ketika kita harus selalu tampil kuat saja, tapi sering kali
justru saat kita asli, keluarga, pelayanan, pekerjaan bisa memiliki kekompakan
dan kesatuan.
IV. Semakin Asli (real) kita, semakin lebih
baik hidup kita, dan semakin
lonely-less hidup kita. Semakin kita pura-pura,
semakin lonely kita. Semakin asli kita, semakin hidup kita bisa terbangun jadi
lebih baik.
V. Menjadi Asli menolong kita menghidupi tujuan
hidup kita.
Sebuah quotation berkata, “kesepian itu bukan
hanya karena kekurangan kawan, tapi juga karena tidak punya tujuan.” Orang
tidak punya tujuan, karena sering kali kita tidak real.
Semakin kita meninggalkan kepura puraan. Semakin kita
mau menjadi asli. Semakin hidup kita mudah di bentuk dan jelas dalam rencana
dan tujuannya Tuhan!
Apa yang harus kita lakukan?
1. Jadilah diri kita yang asli dan terbuka, dengan
kepantasan dan kebijaksanaan.
2. Jadilah diri kita yang asli dan terupgrade jadi
lebih baik. (jangan mau gitu-gitu aja, atau sama-sama aja)
3. Jadilah diri kita yang asli yang menolong orang lain
yang kesepian menemukan Tuhan dan tujuan hidupnya.
Kesimpulan:
Hidup berkawan, berhubungan kita akan lebih baik,
kalau kita real. Sebab, prinsipnya: Orang mengagumi kita karena kekuatan
kita, tapi orang terhubung dengan kita karena keaslian dan keterbukaan kita. Untuk
jadi asli, kita hanya perlu jadi diri kita sendiri. Orang gak terlalu perduli
title, posisi, status kita, tapi orang lebih suka pribadi yang bisa di percaya
karena kita asli.
Menjadi asli kadang pasti ada yang nggak suka.
Yesus aja ada yang nggak suka. Tapi selalu worth it membangun budaya
menjadi asli. Jadilah dirimu yang asli, mari bangun budaya menjadi asli satu dengan
yang lainnya, dalam keluarga, hubungan, pertemanan, pelayanan. Karena tempat
menjadi asli adalah tempat kita bisa belajar jadi pribadi yang lebih baik.
Ingat hikmat ini: berbicara kebenaran adalah
mengucapkan apa yang benar, tapi tidak berarti semua yang benar harus di
ucapkan. Untuk menjadi asli kepada orang lain, kita harus belajar menjadi asli
kepada diri sendiri. Nggak harus selalu sempurna, nggak harus
tahu semua, nggak harus selalu jadi yang terkuat, hanya harus jadi real
(asli).
Makin asli kita, makin baik kita, makin baik kita, semua
orang juga jadi lebih baik!
DISKUSI:
1. (Apa yang Tuhan katakan kepada kita? Perintah apa
yang harus kita lakukan?)
2. Dari kotbah ini, apa yang harus kita rubah dari
hidup kita? Pertobatan apa yang harus terjadi?
3. Kebiasaan apa yang perlu mulai Anda bangun dari
hari ini? Mengapa kebiasaan tersebut perlu Anda bangun?
4. Komitmen apa yang mau Anda lakukan selama minggu
ini berkaitan dengan kebiasaan yang baik?
Tuhan Yesus memberkati.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#lonely less series
Note: jangan lupakan pembacaan Alkitab kita hari ini:
Kitab 2Samuel 6
Daniel 3
Markus 3 :1-19
#LoveGod
#LovePeople
#love thebible
#impacting marketplace
#happysunday
#happyservinggod.
Bahan warta komsel 16 Juni 2019.
#church4sinners
No comments:
Post a Comment