HOPE
Pengharapan/HOPE.
Adakalanya di dunia ini HARAPAN terasa langka. Namun sebagai pengikut Kristus
kita mempunyai pengharapan yang terbesar. Rasul Petrus menulis di dalam 1
Petrus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena
rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus
Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh PENGHARAPAN.”
Melalui KEPASTIAN akan kebangkitan Kristus & kemenangan-Nya atas maut, yang
putus HARAPAN bisa menemukan PENGHARAPAN. Amin.
Respon 1
Amsal 16:16, ‘Memperoleh
hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh
lebih berharga dari pada mendapat perak.’
(GNCC)
Respon 2
Salah satu sifat
manusia setelah jatuh dalam kuasa dosa & maut ialah apa yang ditunjukkan
oleh Adam & Hawa pada waktu menjawab pertanyaan Tuhan setelah makan buah
terlarang itu. Tuhan bertanya, “Apakah kamu makan buah itu?” Bukannya mengakui,
Adam menyalahkan Hawa & Hawa menyalahkan ular. Mereka tidak mau disalahkan.
Mereka tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mereka merasa benar
sendiri. Mereka hanya mementingkan 'keselamatan' diri mereka sendiri. Sejak
itulah apa yang kita sebut 'egoisme' atau 'mementingkan diri' merasuk
sedemikian dalam di jiwa manusia, membawa sedemikian banyak kerusuhan,
kekacauan, kehancuran, kerusakan & kematian yang tak terhingga jumlahnya.
Mengetahui ini, iblis memanfaatkan sebesar-besarnya untuk melawan Tuhan semesta
alam. Melalui sifat egoisnya, manusia dibujuk untuk hidup dalam dosa; mencari
pemenuhan ambisi-ambisi pribadi yang walaupun tampak baik namun semuanya
berujung kesia-siaan; juga secara keji mengorbankan sesamanya (termasuk
keluarga & sahabat) demi mencapai keinginannya. Dihasutnya kita untuk
menolak jalan-jalan Tuhan oleh sebab “jalan itu sempit, pintu itu sesak &
sedikit orang yang melaluinya” & bahwa dalam mengikut Yesus itu hanya ada
penderitaan, tanpa kesenangan di dalamnya. Sesungguhnya makin banyak orang yang
egois mendekati akhir dari segala zaman. Itu karena kasih (pada Tuhan &
sesama) yang semakin dingin (Mat. 24:12), juga manusia makin cinta pada dirinya
sendiri (2 Tim. 3:2) yang menjadi penyebab makin kejinya kejahatan di muka
bumi. Sayangnya, anak-anak Tuhan tidaklah kebal terhadap 'wabah' ini.
Perpecahan & persaingan gereja masih menjadi warna menyolok di dunia
Kristen. Hanya mereka yang telah benar-benar diubah oleh kasih & kuasa
Tuhan saja yang tidak lagi hidup dalam sifat manusia lama yang egois. Mereka
dikasihi begitu hebatnya hingga dimampukan mengasihi. Jika pengorbanan Tuhan
kita tidak menjadikan kita pribadi yang suka berkorban demi kasih, masih
pantaskah kita disebut pengikut Kristus? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Respon 3
Ya amin! Hubungan
ikat janji... Hubungan ikat janji yang telah dibuat biarlah itu menjadi ikatan
sejati yang kita buat dengan sadar. Ingatlah bahwa Tuhan terus bersihkan
gerejaNya dan waktu Tuhan bersihkan gerejaNya, ada banyak orang-orang yang
mulai kehilangan destiny-Nya dan terekspos orang-orang pemberontak, karena itu
penting sekali kita memiliki ikat janji dengan Tuhan dan juga dengan pemimpin.
Ikat janji yang kita buat adalah untuk maksud Tuhan dan untuk melakukan tujuan
Tuhan supaya tergenapi dalam hidup kita. Ikat janji tidak dapat dihalangi oleh
manusia, kaiau kita mau serupa dengan Kristus, maka kita harus setia seperti
Kristus setia. Di dalam Yesaya 54:10, dikatakan kasih Tuhan tetap kekal
selamanya dan perjanjianNya tidak akan bergoyang. Dia Allah yang setia, Dia
Allah yang mendengar doa kita karena Allah mengingat perjanjian dengan orang
tua rohani kita (Kel 2:24-25). Karena itu kita harus menyembah Tuhan sampai
dititik kita membuat ikat janji dengan Tuhan. Waktu kita membuat ikat janji
dengan Tuhan artinya kita setuju dengan apa yang Tuhan setuju, kita menyanggupi
apa yang Tuhan inginkan kita lakukan dalam hidup kita dan harus ada ikatan yang
bersifat kekal dalam ikat janji. Di dalam Yesaya 59:1-2 dan di Yeremia 5:25
mengatakan bahwa yang membuat janji Tuhan itu tertunda atau tidak digenapi itu
karena gaya hidup kita yang tidak sesuai dengan pola Tuhan. Ingatlah kalau kita
sering melawan, selalu membantah dengan arahan orang tua rohani, maka dengan
sendirinya kita akan menghilang. Mulai cek hidup kita, apakah sampai hari ini
kita terus hidup dalam ketetapan Tuhan?? Cek hidup kita apakah kita terus
terhubung akurat dengan orang tua rohani kita, terhubung dalam ikatan Ilahi??
Biarlah kita menjadi generasi yang benar yang hidup dalam ikat janji kita
dengan Tuhan dan pemimpin kita sehingga warisan double porsi dari Tuhan dan
juga dari pemimpin digenapi dalam hidup kita. min Slmt pagi tetap semangat dalam Tuhan dan
menjadi generasi yang menerobos... Jbu all. (Tante Elisabeth – Maumere)
Respon 4
Seorang penulis
terkenal duduk di ruang kerjanya, dia
mengambil penanya & mulai menulis: Tahun lalu, saya harus dioperasi untuk
mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang saya. Di
tahun yang sama, saya berusia 60 tahun & harus keluar dari pekerjaan di
perusahaan percetakan yang begitu saya senangi yang sudah saya tekuni selama 30
th. Di tahun yang sama, saya ditinggalkan papa saya yang tercinta. Dan masih di
tahun yang sama anak saya gagal di ujian akhir kedokteran karena kecelakaan
mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah bentuk kesialan lainnya di
tahun itu. Akhirnya dia menulis: Sungguh ! Tahun yang sangat buruk! Istri sang
penulis masuk ke ruangan & menjumpai suaminya yang sedang sedih &
termenung. Dari belakang sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan
ia mundur & keluar dari ruangan. Kurang lebih 15 menit kemudian dia masuk
lagi & meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sbb: Tahun lalu akhirnya
saya berhasil menyingkirkan kantong empedu saya yang selama bertahun-tahun
membuat perut saya sakit. Tahun lalu saya bersyukur bisa pensiun dengan kondisi
sehat walafiat. Sekarang saya bisa menggunakan waktu saya untuk menulis sesuatu
dengan fokus yang lebih baik & penuh kedamaian. Pada tahun yang sama ayah
saya yang berusia 95 tahun, tanpa kondisi kritis menghadap Sang Pencipta. Dan
masih di tahun yang sama, Tuhan memberkati anak saya dengan hidup baru. Mobil
kami memang rusak berat akibat kecelakaan tersebut, tapi anak saya selamat
tanpa cacat sedikit pun... Pada kalimat terakhir ia menulis: Tahun itu adalah
tahun dengan berkat Tuhan yang luar biasa & kami lalui dengan takjub. Sang
penulis tersenyum & mengalir rasa hangat di dadanya atas interprestasi rasa
syukur atas tahun menakjubkan yang dilewatinya. Moral: Di dalam hidup ini kita
harus mengerti bhw bukan keBAHAGIAan yang membuat kita berSYUKUR. Namun rasa
SYUKUR-lah yang membuat kita BAHAGIA. “Be grateful for what you have & stop
complaining - it bores everybody else, does you no good, & doesn't solve
any problems.” (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:
Post a Comment