Tuesday, 1 December 2015

1 Desember 2015



HOPE




Pengharapan/HOPE. Adakalanya di dunia ini HARAPAN terasa langka. Namun sebagai pengikut Kristus kita mempunyai pengharapan yang terbesar. Rasul Petrus menulis di dalam 1 Petrus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh PENGHARAPAN.” Melalui KEPASTIAN akan kebangkitan Kristus & kemenangan-Nya atas maut, yang putus HARAPAN bisa menemukan PENGHARAPAN. Amin.

Respon 1
Amsal 16:16, ‘Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.’  (GNCC)

Respon 2
Salah satu sifat manusia setelah jatuh dalam kuasa dosa & maut ialah apa yang ditunjukkan oleh Adam & Hawa pada waktu menjawab pertanyaan Tuhan setelah makan buah terlarang itu. Tuhan bertanya, “Apakah kamu makan buah itu?” Bukannya mengakui, Adam menyalahkan Hawa & Hawa menyalahkan ular. Mereka tidak mau disalahkan. Mereka tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mereka merasa benar sendiri. Mereka hanya mementingkan 'keselamatan' diri mereka sendiri. Sejak itulah apa yang kita sebut 'egoisme' atau 'mementingkan diri' merasuk sedemikian dalam di jiwa manusia, membawa sedemikian banyak kerusuhan, kekacauan, kehancuran, kerusakan & kematian yang tak terhingga jumlahnya. Mengetahui ini, iblis memanfaatkan sebesar-besarnya untuk melawan Tuhan semesta alam. Melalui sifat egoisnya, manusia dibujuk untuk hidup dalam dosa; mencari pemenuhan ambisi-ambisi pribadi yang walaupun tampak baik namun semuanya berujung kesia-siaan; juga secara keji mengorbankan sesamanya (termasuk keluarga & sahabat) demi mencapai keinginannya. Dihasutnya kita untuk menolak jalan-jalan Tuhan oleh sebab “jalan itu sempit, pintu itu sesak & sedikit orang yang melaluinya” & bahwa dalam mengikut Yesus itu hanya ada penderitaan, tanpa kesenangan di dalamnya. Sesungguhnya makin banyak orang yang egois mendekati akhir dari segala zaman. Itu karena kasih (pada Tuhan & sesama) yang semakin dingin (Mat. 24:12), juga manusia makin cinta pada dirinya sendiri (2 Tim. 3:2) yang menjadi penyebab makin kejinya kejahatan di muka bumi. Sayangnya, anak-anak Tuhan tidaklah kebal terhadap 'wabah' ini. Perpecahan & persaingan gereja masih menjadi warna menyolok di dunia Kristen. Hanya mereka yang telah benar-benar diubah oleh kasih & kuasa Tuhan saja yang tidak lagi hidup dalam sifat manusia lama yang egois. Mereka dikasihi begitu hebatnya hingga dimampukan mengasihi. Jika pengorbanan Tuhan kita tidak menjadikan kita pribadi yang suka berkorban demi kasih, masih pantaskah kita disebut pengikut Kristus? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
Ya amin! Hubungan ikat janji... Hubungan ikat janji yang telah dibuat biarlah itu menjadi ikatan sejati yang kita buat dengan sadar. Ingatlah bahwa Tuhan terus bersihkan gerejaNya dan waktu Tuhan bersihkan gerejaNya, ada banyak orang-orang yang mulai kehilangan destiny-Nya dan terekspos orang-orang pemberontak, karena itu penting sekali kita memiliki ikat janji dengan Tuhan dan juga dengan pemimpin. Ikat janji yang kita buat adalah untuk maksud Tuhan dan untuk melakukan tujuan Tuhan supaya tergenapi dalam hidup kita. Ikat janji tidak dapat dihalangi oleh manusia, kaiau kita mau serupa dengan Kristus, maka kita harus setia seperti Kristus setia. Di dalam Yesaya 54:10, dikatakan kasih Tuhan tetap kekal selamanya dan perjanjianNya tidak akan bergoyang. Dia Allah yang setia, Dia Allah yang mendengar doa kita karena Allah mengingat perjanjian dengan orang tua rohani kita (Kel 2:24-25). Karena itu kita harus menyembah Tuhan sampai dititik kita membuat ikat janji dengan Tuhan. Waktu kita membuat ikat janji dengan Tuhan artinya kita setuju dengan apa yang Tuhan setuju, kita menyanggupi apa yang Tuhan inginkan kita lakukan dalam hidup kita dan harus ada ikatan yang bersifat kekal dalam ikat janji. Di dalam Yesaya 59:1-2 dan di Yeremia 5:25 mengatakan bahwa yang membuat janji Tuhan itu tertunda atau tidak digenapi itu karena gaya hidup kita yang tidak sesuai dengan pola Tuhan. Ingatlah kalau kita sering melawan, selalu membantah dengan arahan orang tua rohani, maka dengan sendirinya kita akan menghilang. Mulai cek hidup kita, apakah sampai hari ini kita terus hidup dalam ketetapan Tuhan?? Cek hidup kita apakah kita terus terhubung akurat dengan orang tua rohani kita, terhubung dalam ikatan Ilahi?? Biarlah kita menjadi generasi yang benar yang hidup dalam ikat janji kita dengan Tuhan dan pemimpin kita sehingga warisan double porsi dari Tuhan dan juga dari pemimpin digenapi dalam hidup kita. min  Slmt pagi tetap semangat dalam Tuhan dan menjadi generasi yang menerobos... Jbu all. (Tante Elisabeth – Maumere)

Respon 4
Seorang penulis terkenal duduk di ruang kerjanya,  dia mengambil penanya & mulai menulis: Tahun lalu, saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang saya. Di tahun yang sama, saya berusia 60 tahun & harus keluar dari pekerjaan di perusahaan percetakan yang begitu saya senangi yang sudah saya tekuni selama 30 th. Di tahun yang sama, saya ditinggalkan papa saya yang tercinta. Dan masih di tahun yang sama anak saya gagal di ujian akhir kedokteran karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah bentuk kesialan lainnya di tahun itu. Akhirnya dia menulis: Sungguh ! Tahun yang sangat buruk! Istri sang penulis masuk ke ruangan & menjumpai suaminya yang sedang sedih & termenung. Dari belakang sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan ia mundur & keluar dari ruangan. Kurang lebih 15 menit kemudian dia masuk lagi & meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sbb: Tahun lalu akhirnya saya berhasil menyingkirkan kantong empedu saya yang selama bertahun-tahun membuat perut saya sakit. Tahun lalu saya bersyukur bisa pensiun dengan kondisi sehat walafiat. Sekarang saya bisa menggunakan waktu saya untuk menulis sesuatu dengan fokus yang lebih baik & penuh kedamaian. Pada tahun yang sama ayah saya yang berusia 95 tahun, tanpa kondisi kritis menghadap Sang Pencipta. Dan masih di tahun yang sama, Tuhan memberkati anak saya dengan hidup baru. Mobil kami memang rusak berat akibat kecelakaan tersebut, tapi anak saya selamat tanpa cacat sedikit pun... Pada kalimat terakhir ia menulis: Tahun itu adalah tahun dengan berkat Tuhan yang luar biasa & kami lalui dengan takjub. Sang penulis tersenyum & mengalir rasa hangat di dadanya atas interprestasi rasa syukur atas tahun menakjubkan yang dilewatinya. Moral: Di dalam hidup ini kita harus mengerti bhw bukan keBAHAGIAan yang membuat kita berSYUKUR. Namun rasa SYUKUR-lah yang membuat kita BAHAGIA. “Be grateful for what you have & stop complaining - it bores everybody else, does you no good, & doesn't solve any problems.” (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:

Post a Comment